Selasa, 16 Agustus 2011

TAK KAN ADA


Pentolan sekolah itu pergi. Pangeran itu pergi. Pergi selamanya. Menjemput kehidupan barunya yang mungkin selama ini dicarinya. Tak ada yg menduga bahwa ia akan pergi secepat itu.
Semua terkejut, tak menyangka. Sekolah sepi. Tak ada lagi seruan, teriakan, dan hingar bingar yg terjadi karena ulahnya. Tak akan ada lagi motor cagiva hitam itu di area parkir sekolah. Semua benar-benar berubah. Tukang pembuat onar tak akan menampakkan dirinya lagi. Tidak akan.
Pagar sekolah, lapangan, koridor2 sekolah, kantin, ruang guru, ruang BP, ruang kepala sekolah, semua hening. Masih terlalu dini untuk meyakinkan diri bahwa hal itu bukanlah mimpi.Setidaknya perlu waktu 10 hari untuk para guru kembali ke keadaan normal. Mereka kehilangan. Sama dg yg lain. Salah satu siswanya, seorang anak laki2 yg sebenarnya berprestasi dan selalu penuh tanggung jawab, lalu sikapnya yg tak pernah absen untuk datang ke ruang BP atau ruang Kepsek-karena ulahnya yg tak lepas dr masalah-itulah yg secara tak langsung membuat mereka menyayangi anak itu. Kebanggaan mereka.
Dan perlu waktu yg lebih lama untuk orang2 ter dekatnya. Dua sahabatnya itu hanya berdiam di kelas. Tak melakukan apapun. Tak bisa dipungkiri klo mereka jelas terpukul. Sangat terpukul.
Dan gadis itu, saat ini, sedang duduk di salah satu sudut café itu. Diam dg secangkir chocolate panas pesannya,yang mungkin sudah dingin karna sudah ada di sana tanpa disentuh sejak 1 jam yg lalu. gadis itu juga kehilangan. Bahkan mungkin dia yg paling kehilangan setelah keluarga laki2 itu.
Dia sendiri. Tanpa laki2 itu yg biasanya duduk bersama di depannya. Pangeran itu pergi sekarang. Tak ada laki laki2 putih tinggi yg akan mengganggunya. Tak ada lagi laki2 berwajah oriental itu yg akan mengusik setiap harinya. Tak ada lagi laki2 dg rambut style harajukunya yg selalu membuat pipinya merona merah karna marah. Tak akan ada laki2 dg tatapan tajam itu yg terkadang juga bisa membuatnya tertawa senang. Tak akan ada. Tak akan pernah ada. Dia sudah benar-benar pergi. Selamanya.
Ditatapnya jalanan besar yg ada di luar jendela kaca café itu. Lengang. Sama seperti hatinya. Gadis itu diam. Membiarkan luka dan kepedihan atas kepergian orang yg dicintainya itu tampak jelas dimatanya. Dan ketika ketegaran itu hilang akhirnya dia mengalah, pada setiap butiran bening yg ia biarkan membasahi wajahnya.
-TAMAT-

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos Onlinefreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates