Senin, 02 April 2012

Bulan Maret XI-IA 7

Banyak hal terjadi, tiba2 aja udah ganti nama XI-IA 7 dari X-10
Sekolah lagi ada adimiyata, jadi sebagai murid yang baik kita bantu-bantu di taman bunga bersama Bu Weni, wali kelas kami. . .





Ini hasil jepretan dari poncellnya Ivana, tapi aku aja deh yang share in. . .
Hope we always together, guys !!!

Senin, 05 Maret 2012

Soal FISIKA Kelas X Sem 2-Setya Nurachmandani

A. Pilihlah jawaban yang benar dengan menuliskan huruf a, b, c, d, atau e
di dalam buku tugas Anda!

1. Roni mempunyai titik dekat 50 cm dan titik jauh di tak terhingga. Agar
dapat membaca dengan jelas pada jarak 30 cm, maka kacamata yang
harus dipakai Roni harus berkekuatan ….
a. -0,33 dioptri d. 2 dioptri
b. 0,33 dioptri e. 3,33 dioptri
c. 1,33 dioptri
2. Jarak titik api objektif dan okuler suatu mikroskop adalah 1,5 cm dan 5 cm.
Suatu benda yang diamati terletak 5/3 cm di bawah lensa objektif. Mata
normal yang memiliki titik dekat 25 cm mengamati mikroskop dan
berakomodasi pada jarak 45 cm. Perbesaran mikroskop adalah ….
a. 10 kali d. 40 kali
b. 20 kali e. 50 kali
c. 30 kali
3. Jarak titik api objektif dan okuler sebuah mikroskop berturut-turut adalah
1,8 cm dan 6 cm. Wawan mengamati mikroorganisme menggunakan
mikroskop ini dengan tidak berakomodasi. Jika jarak antara objektif dan
okuler 24 cm, maka jarak mikroorganisme dengan lensa objektif adalah
….
a. 1 cm d. 4 cm
b. 2 cm e. 5 cm
c. 3 cm
4. Sebuah lensa cembung dobel (double convex) tipis mempunyai jari-jari
kelengkungan sebesar 40 cm dan dibuat dari kaca (n = 1,65). Panjang fokus
lensa tersebut adalah ….
a. 20 cm d. 31 cm
b. 25 cm e. 36 cm
c. 26 cm
5. Pada penggunaan lup dalam waktu yang lama, sebaiknya benda diletakkan
di ….
a. di belakang lensa
b. di titik apinya
c. pada jarak baca normal
d. di antara jarak baca dan titik apinya
e. di antara titik api dan lensa
6. Sebatang lilin setinggi 5 cm ditempatkan di depan cermin cekung sejauh
20 cm. Jika jarak fokus lensa tersebut sebesar 15 cm, maka ukuran bayangan
lilin adalah ….
a. 11 cm d. 14 cm
b. 12 cm e. 15 cm
c. 13 cm
7. Jika api kompor diperbesar pada saat air yang ditumpangkan di atasnya
sedang mendidih, maka ….
a. suhu air tetap
b. kecepatan air mendidih bertambah
c. suhu air bertambah
d. kecepatan air mendidih tetap
e. air terbakar
8. Panjang sebuah batang logam pada suhu 25° C adalah 100 cm. Jika
koefisien muai panjang logam 1,33 × 10-5 /° C, maka panjang batang pada
suhu 100° C adalah ….
a. 100 cm d. 100,3 cm
b. 100,1 cm e. 100,4 cm
c. 100,2 cm
9. Suatu gas memiliki volume 100 cm3 pada temperatur 0° C dan tekanan
1 atm. Jika temperatur dinaikkan menjadi 50° C dan tekanan menjadi
2 atm, maka volume gas tersebut menjadi ….
a. 45,5 cm3 d. 59,2 cm3
b. 44,5 cm3 e. 38,4 cm3
c. 35,5 cm3
10. Kalor jenis es 0,5 kal/g °C, kalor lebur es 80 kal/g, dan kalor jenis air 1 kal/g °C.
Setengah kilogram es bersuhu -20° C dicampur dengan sejumlah air yang
bersuhu 20° C, sehingga mencapai keadaan akhir berupa air seluruhnya dan
bersuhu 0° C. Massa air mula-mula adalah ….
a. 1 kg d. 2,5 kg
b. 1,25 kg e. 3,25 kg
c. 2,25 kg
11. Sebatang besi bermassa 1 kg memiliki suhu 20° C. Suhu besi dinaikkan
menjadi 30° C dengan sebuah pemanas listrik berdaya 1 kW. Jika efisiensi
pemanas 100% dan waktu yang diperlukan 20 sekon, maka kapasitas kalor
besi adalah ….
a. 1.000 J/°C d. 1.800 J/°C
b. 1.200 J/°C e. 2.000 J/°C
c. 1.500 J/°C
12. Perhatikan gambar di samping! Bila I
adalah kuat arus listrik yang melalui
hambatan 8 ohm, maka besarnya kuat
arus listrik yang melewati hambatan
5 ohm adalah ….
a. I
b. 2I
c. 3I
d. 4I
e. 5I

13. Jika air 100 g dengan suhu 100° C dicampur dengan air 200 g yang suhunya
10 ° C, maka suhu akhir campuran tersebut adalah ….
a. 70° C d. 45° C
b. 67° C e. 40° C
c. 55° C
14. Dua buah resistor sama besar terhubung secara seri dengan sebuah baterai,
ternyata daya total yang terdisipasi sebesar 20 W. Jika kedua resistor tersebut
dihubungkan secara pararel, maka besar daya total yang terdisipasi adalah
….
a. 70 W d. 100 W
b. 80 W e. 110 W
c. 90 W
15. Sebuah kawat tembaga dipotong menjadi sepuluh bagian yang sama
panjangnya. Kesepuluh kawat tembaga ini kemudian disambungkan secara
pararel. Hambatan kombinasi pararel kesepuluh kawat tembaga tersebut
jika dinyatakan dalam hambatan kawat tembaga yang belum dipotong tadi
adalah ….
a. 1/100 kalinya d. 10 kalinya
b. 1/10 kalinya e. 100 kalinya
c. 1 kalinya
16. Jika lampu pijar yang berukuran 60 W/220 V di pasang pada tegangan 110 V,
maka daya lampu pijar tersebut adalah ….
a. 60 W d. 50 W
b. 45 W e. 80 W
c. 45 W
17. Perhatikan gambar di samping!
Beda potensial antara kedua ujung
resistor 4 ohm adalah ….

a. 0,5 V
b. 1 V
c. 1,5 V
d. 2 V
e. 2,5 V
18. Sebuah tong besi (koefisien muai panjang besi 12 × 106 /° C) bervolume
70 liter diisi minyak sampai penuh (koefisien muai volume minyak 950 × 106/° C)
dan diletakkan di halaman rumah pada saat pagi hari dengan suhu 20° C.
Pada siang hari suhu naik menjadi 40° C, sehingga minyak memuai.
Banyaknya minyak yang tumpah adalah ….
a. 1,28 liter d. 0,5 liter
b. 1 liter e. 0,28 liter
c. 1,5 liter
19. Hambatan jenis kawat penghantar bergantung pada …
a. luas penampang kawat d. panjang kawat
b. beda potensial kawat e. jenis kawat
c. hambatan kawat
20. Sebuah bola lampu berukuran 90 W/30 V. Jika hendak dipasang pada sumber
tegangan 120 V dengan daya tetap, maka lampu tersebut harus dirangkai
seri dengan hambatan sebesar ….
a. 10 ohm d. 40 ohm
b. 20 ohm e. 50 ohm
c. 30 ohm
21. Sebuah keluarga menyewa listrik PLN sebear 500 W denga tegangan 110 V.
Jika untuk penerangan keluarga tersebut menggunakan lampu berukuran
100 W/220 V, maka jumlah maksimum lampu yang bisa dipasang adalah
….
a. 10 buah d. 40 buah
b. 20 buah e. 50 buah
c. 30 buah
22. Mata manusia peka terhadap cahaya tampak yang memiliki panjang
gelombang antara ….
a. 400 nm – 800 nm d. 300 nm – 400 nm
b. 600 nm – 900 nm e. 100 nm – 200 nm
c. 200 nm – 300 nm
23. Satuan daya listrik dapat dinyatakan dalam ….
a. A2 �� d. VA
b.
Nm
V e. VC
c. AC-1
16 ��
12,5 v
5 ��
8 ��
1 ��
3 ��
4 ��
24. Untuk memotret keadaan tulang dalam tubuh digunakan ….
a. sinar tampak d. ultraviolet
b. sinar gamma e. inframerah
c. sinar-X
25. Sebuah kawat penghantar yang dihubungkan dengan baterai 6 V
mengalirkan arus 0,5 A. Jika kawat dipotong menjadi dua bagian sama
panjang dan dihubungkan pararel satu sama lain ke baterai, maka kuat
arus yang mengalir sekaranga adalah ….
a. 12 A d. 0,5 A
b. 6 A e. 0,25 A
c. 2 A
26. Keunggulan gelombang radio FM dari gelombang radio AM adalah ….
a. jangkauan lebih jauh
b. dipantulkan ionosfer
c. merupakan gelombang longitudinal
d. sebagai pembawa informasi
e. gelombangnya diterima lebih jernih
27. Sebuah aki mempunyai ggl 12 V dan hambatan dalam 0,1 ohm. Jika aki diisi
dengan arus 20A, maka tegangan antara kedua terminalnya adalah ….
a. 10 V d. 13 V
b. 11 V e. 14 V
c. 12 V
28. Sebuah pesawat tempur memancarkan pulsa gelombang radar, 4 sekon
kemudian gelombang pantul diterima. Hal ini menunjukkan terdapat benda
dari pesawat sejauh ….
a. 12 × 108 m d. 6 × 108 m
b. 12 × 105 m e. 7,5 × 108 m
c. 6 × 105 m
29. Sebuah pemancar stasiun TV bekerja pada frekuensi 1,5 MHz. Jika cepat
rambat gelombang elektromagnetik di ruang hampa sebesar 3 × 108 m/s,
maka panjang gelombang TV tersebut adalah ….
a. 4,5 × 108 m d. 2 × 102 m
b. 2 × 105 m e. 2,5 × 102 m
c. 1,5 × 102 m
30. Foto-foto sinar-X yang digunakan para dokter gigi umumnya diambil pada
saat mesin sinar-X beroperasi dengan elektron dipercepat pada tegangan
sekitar ….
a. 250 nm d. 0,25 nm
b. 25 nm e. 0,025 nm
c. 2,5 nm

B. Jawablah soal-soal berikut dengan benar!

1. Sebuah miskroskop mempunyai panjang tabung 21,4 cm, fokus objektif
4 mm, dan fokus okuler 5 cm. Untuk mendapatkan bayangan yang jelas
dengan mata tak berakomodasi, maka tentukan jarak benda dengan lensa
objektif!
2. Sebuah pesawat pengintai yang dilengkapi radar mendeteksi musuh yang
terbang mendekatinya. Jika waktu yang diperlukan gelombang radar pada
saat dipancarkan sampai diterima kembali adalah 5 × 10-5 sekon, maka
tentukan jarak pesawat musuh tersebut!
3. Robert memiliki titik dekat 50 cm di depan lensa matanya. Agar dapat
membaca pada jarak normal (25 cm), maka tentukan kekuatan kacamata
yang harus dipakai Robert?
4. Sebuah lempeng berbentuk persegi panjang memiliki panjang 15 cm dan
lebar 28 cm terbuat dari aluminium. Jika suhu lempeng tersebut dinaikkan
sebesar 100° C, maka tentukan luas lempeng tersebut! (koefisien muai
panjang aluminium = 2,4 × 10-5/°C)
5. Sebuah lampu mercuri memancarkan gelombang elektromagnetik dengan
laju energi rata-rata tiap satuan luas sebesar 24 105watt/m2
��
�� . Tentukan
besarnya medan magnetik maksimum lampu tersebut!
6. Sebongkah es yang bersuhu -10° C dipanasi hingga tepa menjadi uap pada
titik didihnya (100° C). Jika massa es 30 g, maka tentukan jumlah kalor yang
diperlukan! (kalor jeis es = 0,5 kal/g °C, kalor lebur es = 80 kal/g, titik lebur
es = 0° C, dan kalor uap air = 540 kal/g)
7. Sebutkan perbedaan gelombang elektromagnetik dan gelombang mekanik!
8. Sebuah kompor listrik yang dayanya 500 W dan daya gunanya 40%
digunakan untuk memanaskan I liter air yang suhu awalnya 20° C. Jika kalor
jenis air adalah 4 J/g °C, maka tentukan suhu air setelah 15 menit!
9. Di sebuah pabrik digunakan sinar laser untuk membuat lubang pada
kepingan logam. Intensitas rata-rata sinar adalah 1,23 × 109 J/m2s.
Tentukan nilai maksimum medan listrik dan medan magnetiknya!
10. Sebuah galvanometer yang hambatannya 50 ohm akan mengalami
simpangan maksimum jika dilalui arus 0,01 A. Agar dapat digunakan untuk
mengukur tegangan hingga 100 V, maka tentukan hambatan muka yang
harus dipasang pada galvanometer tersebut!

KUNCI JAWABAN
Pelatihan Semester Genap
A. Pilihan Ganda
1. c
2. e
3. b
4. d
5. b
6. e
7. a
8. b
9. d
10. c
11. e.
12. c
13. e
14. b
15. a
16. b
17. b
18. a
19. e
20. c
22. a
24. c
26. e
28. d
30. e
B. Essay
2. 7,5 km
4. 422,016 cm2
6. 21750 kal
8. 65° C
10. 9950 ohm

Senin, 02 Januari 2012

The Strength Part 2

Lanjutan  “The Strength”
Kejatuhan
 

 
Amsterdam kini tengah malam.
5 jam berdiam dalam pesawat yg berangkat pukul 8 pagi waktu Indonesia bagian barat, ternyata membawanya ke bagian belahan dunia lain saat jam menunjukkan pukul 19.35 waktu setempat.
Pukul 8 pagi waktu Indonesia. Ley tersenyum lirih mengingat itu. 2 jam lebih awal dr apa yg dikatakannya pada ke-3 sahabatnya kemarin lusa. Ley tidak berbohong klo pada awalnya jadwal keberangkatan itu pukul 10, tapi dia ingin tak ada hal yg membuatnya kembali berat untuk meninggalkan tempat itu saat sahabat2nya mengucapkan kata2 perpisahan seperti bayangannya.
Tapi toh 5 menit sebelum pesawat take off dia sudah mengirim sebuah pesan singkat pada ketiganya bahwa dia sudah berada di pintu pesawat. Jadi ketiga cewe itu tak harus kalang kabut tak menemukan dirinya di bandara.
Ley memandang keluar jendela mobil yg ditumpanginya. Negara ini…. indah dan tenang. Ley menarik ujung2 bibirnya, membentuk sebuah senyum khas miliknya. Hari ini dia akan beristirahat sejenak di apartement milik keluarganya sebelum menjalani sederet jadwal pengobatannya.
˜˜Ë
Sebuah kamar tidur yg cukup besar dg dominasi warna putih dan cokelat. Masih sama saat terakhir dia kesini untuk berlibur sekitar 1 tahun yg lalu. tetap bersih dan rapi.
Kamar inilah tempat privasinya. Disinilah tempat yg slalu membuatnya nyaman untuk menumpahkan segala perasaannya. Dan mungkin disini nanti juga hal yg paling dia hindari akan terjadi.
Sebuah hal yg dilakukan dg hanya mengikuti perasaan. Bukan logika realistis yg slalu digunakannya. Sebuah hal yg akan merubah segalanya.
˜˜Ë
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Ley terbangun dari tidur malamnya yg cukup nyenyak.
Dg sedikit gerakan untuk melemaskan otot2nya, Ley berjalan ke arah pintu kamarnya.
Dia tersenyum saat melihat sosok sang Mama yg berdiri di sana.
“Udah bangun sayang?” tanya sang mama lembut sambil membelai rambut Ley.
Ley mengangguk kecil, lalu kembali melangkah menuju ranjang tidurnya dan duduk di sana. sang Mama mengikuti dan duduk di tepian ranjang.
“Jam berapa sekarng?” tanya Ley dg mata masih sedikit terpejam.
Wanita cantik itu tersenyum dan dia berdiri lalu melangkah sebelum menjawab pertanyaan sang putri. Di bukanya curtain putih yg menutup jendela kaca besar kamar itu.
“Jam 9. Masih ngantuk?” tanyanya penuh perhatian.
“Terlalu nyaman disini,” jawabnya pelan.
“Itu alasan kenapa kamu suka tempat inikan?”
“Ya….” Jawab Ley lagi, masih pelan.
“We have schedule at 11.30 am today. You must get prepared dear..,” ujar sang Mama sambil kembali duduk di tepian ranjang. Ditatapnya Ley teduh.
Ley balas menatap mamanya. Pandangan mata itu akan slalu dirindukannya. Walau dia tahu dia bisa menemukan itu kapanpun dia mau.
Dan ley hanya menjawabnya dg sebuah anggukkan kepala.
“Kalau gitu mama keluar ya…,” pamit sang Mama sambil beranjak keluar.
“Ma…,” panggilan itu membuat sang Mama membalikkan badannya.
“Ya?”
Ley tak langsung menjawab. Dia malah tersenyum dan menatap mamanya lekat.
“Makasih udah bangunin Ley…,” ucapnya kemudian.
“Sama-sama,” balas sang Mama sebelum benar2 meninggalakan kamar putrinya itu.
˜˜Ë
Ini hari kesepuluh Ley tinggal di Amsterdam. Dan selama itu pula dia tdk pernah absen untuk control. Tapi itu masih tahap awal. Belum pengobatan yg sesungguhnya. Dan mungkin hari ini adalah awalnya.
Suatu hal yg tak diduga sebelumnya. Karna ini masih terlalu dini. Tapi pernyataan itu sudah keluar begitu saja.
Penyakit itu sudah terlalu liar menjalar. Liar karna terlalu cepat. Liar karna penyakit itu berlari sesuka hatinya.
Mobil itu melaju dalam diam. Ley bahkan sang Mama masih terus diam. Masih terlalu tergunjang dg apa yg mereka dengar.
Penyakit itu sudah menjalar. Kami tidak menyangka ‘dia’ seagresif ini. Tapi kamu akan berusaha semaksimal mungkin.
Kanker itu menggrogoti tubuhnya. Kami takut agresifitasnya terus meningkat.
Dua hal itu sudah cukup untuk membuat anak dan ibu itu mengerti. Mereka paham. Dan mereka tahu kelanjutan itu semua.
Penyakit itu terus bertambah parah dan harapan itu semakin kecil. Intinya seperti itu.
Tapi tetap dipaksakan agar air mata itu tidak meleleh sekarang.
Ley memilih melihat keluar jendela mobilnya tanpa fokus. Pandangannya kosong. Sama seperti hatinya. Tapi tidak pikirannya. Sedari tadi pertanyaan2 itu terus muncul dr benaknya. Seperti apakah keadaannya sekarang? Sudah separah itukah penyakitnya? Tapi tak ada satupun yg mampu dijawabnya.
˜˜Ë
“Are you fine Ley?” tanya sang Mama penuh kelembutan saat mereka sudah sampai di depan apartement.
Ley mengangguk sekilas.
Di dalam sang Papa tengah berkutat dg laptop miliknya. Dan langsung berdiri saat dilihatnya dua orang tercintanya sudah pulang.
“Bagaimana hari ini?” tanyanya. Ditatapnya sang istri lalu sang putri.
Ley tersenyum tenang saat sang Papa menatapnya sedikit cemas. Sebuah senyum khas miliknya. Senyum tanpa beban miliknya. Dan matanyapun masih memancarkan ketenangan yg luar biasa. Sementara sang Mama menatap lirih ekspresi itu.
“Ley ke kamar dulu ya Pa, Ma… mau istirahat,” pamitnya. Msh dalam ketenangan yg sama dia berjalan menuju kamarnya.
“Apa yg terjadi?” tanya sang Papa setelah melihat Ley sudah masuk ke kamar.
Wanita itu menunduk dalam. Tak dapat lagi disembunyikan gurat kesedihan itu seprti yg dilakukannya tadi di depan putrinya.
“Ma….?” Panggil sang Papa.
“Kanker itu… sudah menjalar Pa,” ucapnya lirih. Sangat lirih. Hampir tak terdengar.
Sejenak wajah tegas itu berubah kelam. Apakah dia tak salah dengar?
“Ceritakan ma…,” mintanya pelan.
Sementara itu di dalam kamar….
Ditutupnya pintu perlahan. Dengan senyum dan tatapan tenang yg masih tersisa, Ley duduk di atas ranjangnya perlahan.
Diam dia menatap sebuah lukisan yg tergantung pada dinding di depannya. Dan ekspresi tadi seketika hilang. Senyum itu, ketenangan mata itu. Tak terlihat lagi di sana.
Semuanya terasa lumpuh. Dipaksakannya lagi senyum miliknya itu muncul tapi gagal. Dicobanya lagi tapi masih gagal. Di cobanya lagi dan lagi, dan tetap tak berhasil. Matanya kini menatap sayu. Ketenangan itu hilang sudah.
Rasanya sangat lelah. Sakit dan sesak. Mungkin ini saatnya. Saat dirinya harus mengalah. Dan dugaannya benar ditempat inilah.. hal itu akan terjadi.
Semua membuncah. Lelah, berat, ketakutan, kekhawatiran, dan entah apalagi yg lain. Dan lagi2 pertanyaan2 itu berputar di otaknya.
Haruskah seperti ini? berapa lama lagi dia bisa bertahan? Seberapa kuat lagi dirinya? Salahkah jika ia takut mati sekarang?
Dan lagi2 semua pertanyaan itu hanya tetap sebuah pertanyaan tanpa jawab.
Pandangannya mulai kabur. Lapisan bening itu mulai memenuhi mata indahnya. Inikah waktunya? Saat dia benar2 mengalah dan melakukan dg dasar sebuah perasaan? Tapi ternyata dirinya sudah terlalu lelah dan dia akan mengalah sekarang.
Dengan gerakan tak terkendali seprti kesetanan dia mengobrak2 barang2 yg ada didekatnya dan meja kecil disebelah tempat tidur itu-yg berisi lampu tidur , vas bunga, dan beberapa buku- juga tak luput dari aksinya. Ditambah dg teriakan dari rasa frustasi tak terkendali yg baru pertama kali ini diturutinya.
Diluar mendengar suara ribut dr kamar sang putri, kedua orang tua itu berlari dlm kekhawatiran.
Sesaat tak ada yg bergerak membuka pintu. Mereka hanya diam di depan pintu kayu putih itu. Karna mereka tau itu adalah bagian privasi putrinya. Tapi sejurus kemudian sang mama memutuskan untuk masuk perlahan.
Dibukanya pintu itu perlahan dan dibiarkan setengah terbuka. Wajah wanita itu terkejut tak percaya. Diam mematung di tempatnya.
 Itukah putrinya?
Itukah Aleysa Aninda putrinya? Putri yg dikenalnya sangat tegar dan kuat. Putri yg dikenalnya selalu bisa terlihat tenang dan baik2 saja. Itukah putrinya sekarang?
Atau itukah sosok putri tunggalnya yg sebenarnya? Gadis itu menangis dg memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya disana.   
Terlihat sangat menyedihkan. Bahkan suara tangisnya pun sangat menyakitkan untuk didengar oleh siapapun. Perlahan sambil menahan air matanya sendiri, sang mama berjalan mendekat lalu duduk diekat sang putri.
“Sayang….,” panggilnya pelan sambil mengusap punggung sang putri. Gadis itu mendongakakn wajahnya ke arah sang mama.
Mata itu. Bukan tatapan mata milik putrinya yg selalu dilihatnya. Mata itu bahkan tak menampakkan bahwa ia selalu memancarkan sinar ketenangan tak terkalahkan. yang terlihat sekarang hanyalah kesedihan yg luar biasa. Rasa lelah yg begitu lama, kecemasan yg begitu memeluk erat pemiliknya, dan ketakutan yg luar biasa.
Gadis itu memeluk sang Mama meminta pertolongan. Sangat erat sambil terus menangis.
“Mama ada disini sayang,” ucap sang mama lirih sambil berusaha menghentikan tangisnya sendiri.
“Ley takut ma…,” ucapnya lirih di sela tangisnya.
“Ley…Ley ta..kut.. Ma… takut,” ucapnya lagi. Kini dg terbata. Dan hanya kalimat yg sama itu yg terus diulangnya.
“Mama disini.”
Wanita itu masih tak percaya. Dalam sebuah pelukan untuk anaknya dia mencoba untuk tegar. Tapi gagal karna untuk pertama kalinya putrinya itu benar2 bersandar padanya. Meminta sebuah kekuatan dan perlindungan. Dia melihatnya sekarang.
Hatinya mencelos.Putri kesayangan dan kebanggaannya itu benar2 terpuruk dan jatuh sekarang. Tanpa topeng dan bentang kokoh milik sang putri.    

bersambung. . . 
G.G.

Purwodadi on Trip (??)

Hhhuuufftt...... pengin share lagi di blog tercinta...
Ini trip kedua selama aku di kelas X-10 akselerasi..
Perjalanan ke Purwodadi.... tugas biologi yang wajib dikerjain... mantengin satu2 tumbuhan disana, biar akrab gitu.. wkwkkwk...
Tapi karna namanya juga para ababil... jadi ya gini deh...
Penyalur hobi foto2 juga...

Siapa lagi kalau bukan yang punya blog... cewe manis bernama Margareta Galuh ini yang iseng-iseng nulis ceritanya di sini.. hahaha...
Ivana Novita, satu-satunya cewe chainis di kelas X-10...
Ini juga hasil jepretanku.... kliatannya malah kayak konsep pra wedd... modelnya Annas Gading dan Khrisnayu

Ini nggak sengaja... trus kalau dilihat-lihat malah kayak... para kru pemotretan gitu...

Karna namanya bukan rekreasi... tetep harus menjalankan kewajiban donk... Jadi akrab-akrab aja sama beberapa tumbuhan disana. baguskan?

Ini tumbuhan pertama yang dipelajari.. Kalau nggak salah namanya Tumbuhan Janda Merana..

Yang rajin nulis... aku sih kebagian potert aja.. asiiikk..
Benernya masih banyak sihh... tapi cukup segin aja... bentar lagi mau ke Jatim Park.... iihiirr...
Salam G.G.

Sabtu, 31 Desember 2011

Ketika Senja Mulai Menghilang (cerpen) - Part B (end)

Aroma khas rumah sakit langsung menusuk saat pria dan wanita berumur itu memasuki ruang ICU. Wanita itu langsung menangis saat melihat kondisi anaknya.
“Ify… ini Mama sama Papa sayang….. kamu dengar Mama?” wanita itu mencoba untuk tegar.
“Ini Papa Ify…. Maafkan Papa ya… yg selama ini kadang marah sama kamu. tapi itu karna papa sangat sayang sama kamu. dan maafkan papa juga karna harus mengambil keputusan ini. tapi papa Cuma ingin yg terbaik buat kamu.”
“sayang….,” wanita itu mengelus rambut Ify lembut, “Mama sayang sekali sama kamu…… kamu adalah anak kebanggaan mama…. Terima kasih karna telah menjadi anak yang baik untuk kami. Terima kasih Ify. Enam belas tahun menjadi bagian hidup kamu, membuat mama belajar banyak. Terimakasih sayang. mama ikhlas….”
Ucapnya lalu mengecup kening Ify.
***
“Ify…. Ini kita agni, sivia, kak alvin, kak cakka….. aku Cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu. makasih udah jadi sahabat yang baik. Sahabat yg selalu menjadi pendengar yg baik. Aku rela Fy. jaga diri baik-baik ya….” Agni mundur mendekati cakka. Sambil menahan air matanya.
“Ify……!!” seru Sivia tertahan dan berhambur memeluk Ify sesaat,” Ini aku Sivia. maaf kalau aku punya salah sama kamu. terimakasih buat jadi sahabat yang baik…… dan terima kasih karna kamu selalu bikin kita bangga. Aku…aku… rela ngelepas kamu.” ucapnya sambil mencium pipi Ify.
“Fy… ini alvin… maaf kalau pernah buat salah sama kamu ya..maaf kalau kata2 aku sering nyakitin kamu.”
“Ini cakka fy… maaf ya kalau sering buat kamu jengkel… terimakasih udah jadi orang terbaik dlm hidup aku, agni dan yg lain. Kita semua sayang sama kamu fy.”
***
Dalam tangis yg tak kunjung reda Shilla memasuki ruang ICU bersama Iel.
“Ify…. Aku nggak nyangka kalau bakal kayak gini… maaf udah ninggalin kamu. seharusnya aku tetep tinggal disini,” ujar Shilla sambil sesekali terisak, “maaf kalau aku punya salah ya… makasih udah jadi sahabat terbaik….. pendengar yg baik….. orang yg bisa buat aku ketawa. Makasih fy… aku iklhas ngelepas kamu.”
“Ify… aku gabriel…. Makasih buat segala hal yang udah kamu kasih ke aku. Makasih buat semuanya dan maaf untuk semuanya juga…. Loe tenang di sana ya…aku janji akan jaga Shilla dg baik…kamu tenang aja.”
***
Ray berjalan gontai menuju tempat kakaknya berbaring. Ini bukan yg diinginkannya. Kenyataan yg paling dihindarinya kini ada didepan matanya. Kehilangan dia. Orang yg walau sering bertengkar dgnya tapi dialah orang yg disayangnya.
“Kak Ify…,” panggilnya sambil memegang tangan kakaknya.
“Kakak tau? Ini hal tersulit yg pernah Ray  lakuin dlm hidup Ray. Ray nggak rela kak. Ray nggak rela ngelepas kakak. Tapi Ray…… Ray nggak mau egois. Mungkin… ini yg terbaik buat kakak. Ray pasti akan merasa kehilangan dan kangen banget sama kakak nanti… Hehh…,” Ray tersenyum miris, “Maaf sering buat kakak jengkel. Maaf sering buat kakak marah2. Makasih ya kak…. Makasih.. udah jadi kakak yg paling baik yg selalu bisa Ray andelin. Makasih kak….”
“Ray…. Ray…. Relain kak Ify..!!” dan diakhir kalimatnya Ray berlari keluar dari ruang itu.
***
Putih… selalu seperti ini. ruangan serba putih yg akhir2 ini menjadi akrab dgnya. Dg langkah pelan Rio mendekat ke satu2nya ranjang yg ada di sana. duduk di kursi yg telah ada.
“Hai… cantik… apa kabar?” sapanya lembut sambil menggenggam tangan Ify.
“Kamu tau…? Hari ini ada malaikat turun…. Mereka kasih tau aku kalau mereka mau jemput sahabat mereka…,” Rio jeda matanya mulai berkaca-kaca, “Itu kamu,” lanjutnya lirih.
Rio tersenyum manis sekali.
“Kamu tau sulit bagi aku untuk mengatakan kalau aku dan yg lain harus belajar iklhas buat melepas kamu. karna sampai kapanpun aku pasti nggak akan bisa Fy. karna aku… sangat mencintai kamu. kalau aku bisa, aku ingin kamu tetap ada disini….”
“Maaf kalau selama ini aku sering bikin kamu kesel, marah sama kamu, bikin kamu nangis….,” ucap Rio lembut sambil usap pipi Ify.
“terimakasih untuk 3 tahun yg luar biasa. Kamu yang bisa buat aku selalu tersenyum, buat aku nggak egois, kamu yg selalu mewarnai hari-hariku. Terima kasih Ify…… buat cinta kamu, ketulusan kamu, terima kasih karna telah menjadi bagian dalam hidup aku. Terima kasih untuk menjadi cinta pertamaku,” Rio berdiri membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya agar mendekati wajah Ify.
Rio berbisik tepat ditelinga Ify, “Terima kasih untuk segalanya, aku Mario sangat mencintamu Alyssa……,” Rio berhenti sejenak, “Kalau ini memang waktunya aku…….aku…..,” Rio berhenti. Ternyata tak semudah seperti logikanya.
“Aku ikhlas Fy……..,” diciumnya kening Ify, dan ditahannya. Sebuah doa kecil terselip agar sesuatu yg diharapkannya terjadi. Tapi Tuhan telah menentukan. Alat pemdeteksi detak jantung itu berbunyi nyaring. Garisnya kini hanya mendatar panjang. Berhenti. Jiwa itu telah benar2 pergi. Lepas dari raganya. Melepas semua sakitnya.Melepas semua bebannya. Bahkan sebelum alat itu dilepas.
***
Mendung bukan segalanya, mataharipun tak dapat menghapusnya… semua yang ada disana berduka…. Kehilangan. Dia yang mereka cintai. Pergi untuk selama-lamanya. Menjemput kehidupannya yang abadi.
***
Studio Lukis………….
Kosong. Diam.
Tak ada kehidupan. Tak ada lagi gadis manis yg akan duduk berjam-jam disana  untuk melukis. Dan tak akan ada lagi lukisan baru yang diciptakannya. Semuanya akan seperti ini. bahkan lukisan terakhirnypun masih berdiri di papan penyangga.  Gadis itu tak akan ada lagi disana. Hanya lukisan2 itu yg akan menceritakan kisah2nya.
Dan lukisan kota dg fokus senja itu akan tetap disana. Tak terselesaikan. Atau memang sengaja tak diselesaikan?
***
8 tahun kemudian…..
Seorang bocah laki2 masuk ke ruang itu dg rasa penasaran yg tergambar jelas diwajahnya. Dan ekspresi itu berganti dg ekspresi kagum saat melihat apa isinya. Dan sebuah lukisan yg masih berdiri di peyangganya menarik perhatiaannya. Tunggu! Ada lukisan aneh dibawah lukisan itu. Bukan! Apa itu?
Sebuah kayu tipis dg garis pembagi. Dan di kayu itu terdapat lukisan senja dan pelangi.
Bocah itu keluar sambil membawa kayu itu bersamanya.
Dimana papanya? Eh? ada suara orang berbincang didepan.
“Terimakasih karna masih menyempatkan datang kesini…”
“Ray jangan begitu…. Aku hanya terkadang… teringat dgnya…”
Dua laki2 dewasa itu tersenyum lirih. Sampai,
“PAPA!!”
“Rizky? Dari mana kamu?”
Bocah cilik yg dipanggil itu hanya tersenyum tanpa dosa.
“Rizky sudah besar ya?”
“Hahha… IYa. Rizky.. ayo beri salam sama Om Rio.”
“Siang Om Rio.” sapa Rizky dg senyum lebarnya.
“Siang Rizky.” Balas Rio ramah.
“Apa ini?” tanya Ray yg melihat ada kotak kayu yg dibawa Rizky.
“Oya.. Pa.. tadi Rizky nemu ini di sebelah kamar tante Ify.”
DEGG…. Kedua wajah laki2 itu seketika berubah.
“Apa?” tanya Rio sebiasa mungkin.
“Nggak tau… bagus ya lukisannya? Apa bisa dibuka ya?”
Ray menatap benda itu dlm diam.
“Papa boelh coba buka?” tanyanya.
Rizky mengangguk antusias.
Dan kotak itu bisa dibuka… sebuah kuas, gelang dan kertas yg tampak sudah usang.
“Gelang itu….” Rio terperanjat.
“Kau tau ?”
Rio mengangguk, “itu gelang yg Ify berikan padaku sivia, agni, shila, alvin, cakka, dan juga iel.”
Ray tertegun… sementara Rio mengalihkan pandangannya pada kuas yg ada disana.
“Ini…,” ucapnya sambil meraba kuas itu, “pasti kuas kesayangannya?”
“Iya….,” ucap Ray lirih.
“Papa.. ini milik tante Ify? Maaf ya Rizky udah ambil…”
“Enggak papa sayang…,” ucap Ray sambil mengelus rambut anaknya itu.
“Apa ini?” Ray membuka kertas usang itu dan mulai membaca. Wajahnya terperangah. Dan dialihkannya pada Rio.
“Ini punya kak Ify,” ucapnya sambil mengulurkan kertas itu pada Rio.
Aku seperti senja……
Cahayanya membuatku terbangun
Mengijinkanku menikmati semuanya
Semua yg bernaung dibawahnya
Hidupku…. Akan seperti warnannya
Warna yg berbeda disetiap senja yg tak sama
Dan ketika senja itu mulai menghilang
Aku akan menjadi sinarnya…
Merah dan jingga….
Malu karna akan sekarat….
Dan ketika senja itu hilang
Aku juga….. 

                                            -Alyssa Saufika-

TAMAT

Minggu, 28 Agustus 2011

Maaf....

Pernah melakukan sesuatu lalu merasa menyesal?
Atau melakukan sesuatu walau tahu itu salah?
Aku pernah........
Sangat menyesal dan merasa sangat bodoh....
Tapi setelah itu, aku berjanji tidak akan mengulangnya lagi...
Maaf.... maaf sekali.........

Senin, 22 Agustus 2011

Ketika Senja Mulai Menghilang (cerpen) - Part A


Senja itu datang ketika aku baru memetanya di mata dan hatiku.....
“Aku nggak pernah berfikir untuk pergi. Tapi rasanya………..,” kalimat itu dibiarkannya menggantung.
“Aku masih ingin kamu untuk tetap tinggal. Disini,” ucap laki2 itu sambil menunjuk dadanya, “Kami masih ingin kamu ada. Aku, papa mama kamu, Ray, juga anak-anak. Semua pengin kamu disini.”
“Aku juga masih ingin kak. Tapi hidup tetap harus realistiskan?” sahutnya lirih.
“Dan harapan itu akan tetap ada!” laki2 itu berucap lirih tapi tegas.
Sepasang anak manusia itu duduk bersanding dalam diam menikmati suasana senja yang indah.
***
Minggu pagi yang cerah. Seorang gadis kurus berambut panjang duduk diam di gazebo rumahnya yg terletak di samping kolam renang.
Seorang laki-laki sekitar 2 tahun lebih muda darinya berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan gadis yg tak lain adalah kakaknya.
“Kak?” sapanya pelan, “Kok udah bangun? Udah cantik lagi?” tanyanya lembut.
Gadis itu tertawa kecil, “Mulai kapan sih Ray, kamu belajar muji kakak gitu?”
“Yee…..,” laki2 yg bernama Ray yg tak lain adik gadis itu sedikit manyun, “Beneran kak Ify.”
“Iya iya Ray..kakak tau. Nggak papa kok. Pengin aja,” jawab gadis bernama Ify itu.
“Kak mau jalan nggak hari ini?” ajaknya dg mata berbinar.
“Kemana?”
“Ke tempat biasa. Kangen kesana nih. Mau ya?”
Ify mengangguk menyetujui.
***
Mobil Yaris Putih itu diparkir di tengah tanah lapang yg dikelilingi ilalang. Dari sana bisa melihat sebagaian kota padat penduduk itu.
“Kok diparkir disini Ray?”
“Nggak papa. Sekali-kali. Biar lebih nyaman aja. Gak jauh jalannya.” Jawab Ray cuek sambil keluar dari mobil. Diikuti Ify.
Ray bersandar di kap mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ify mengikuti Ray bersandar di kap mobil.
Mereka saling diam. Menatap pemandangan yg disuguhkan disana. Di tempat mereka. Tempat pelarian, saat masalah datang atau saat masalah itu pergi. Tempat yg pasti mereka tuju untuk sejenak berhenti dari segala aktifitas. Diam dan berfikir.
Ify mengalihkan pemandangannya pada sebuah bukit yg tak jauh dari tempatnya.
“Dulu aku yang bawa mobil ini,” ujarnya pelan.
“Aku Cuma nggak pengin kakak kenapa-napa. Kalau kakak udah baik-baik aja pasti kakak yg bawa mobil ini lagi,” sahut Ray sambil menoleh pada kakaknya.
“Tapi…waktu itu nggak akan datang…..,” ujarnya lirih. Tapi cukup untuk didengar Ray.
“Kak!,” bentaknya agak keras. Tapi tersungging senyum kecil dibibir Ify.
“Dulu kita suka kesanakan?” tanya Ify pada topik lain. Entah untuk mengalihkan atau apa. Tapi toh Ray tak ingin memperpanjang topik sebelumnya.
“Kakak mau kesana?” tawarnya.
“Kalau aku kesana sendiri?.....” tanyanya pelan.
Ddrreett…ddreettt….
Ray sudah hendak membuka mulutnya saat handphone Ify bergetar.
Sebuah nama yg sangat dikenalnya berkedip di layar handphone.
Mario calling……
“Hallo…..” sapa suara di seberang.
“Kak Rio? ada apa?”
“Kamu sama Ray ada dimana?” ada nada khawatir di setiap katanya.
Ify tertawa kecil, “Aku baik-baik aja. Hari ini aku pengin berdua sama Ray. Nggak papakan?” tanya Ify, lebih pada pertanyaan yg ingin dijawab dg jawaban iya.
“Hhheehhh..,” di seberang telephon Rio menghela nafasnya sejenak, “Iya gak papa. Aku Cuma khawatir. Nanti kalau kamu udah pulang kabarin aku ya?”
“Iya kak…,”
“Miss you Fy.”
“Miss you too.” Dan sambungan telepon putus. Ify memasukan kembali handphonenya di kantung jaketnya.
“Kakak boleh kesana sendiri,” ucap Ray kemudian tepat saat Ify memasukan handphonenya kembali. Sedikit terkejut Ify menoleh ke arah Ray.
“Aku akan nunggu disini,” lanjutnya sambil tersenyum. Sebuah senyum hangat dan tulus dari seorang saudara dg kasih sayang yg begitu besar.
***
Entah sudah berapa lama dia duduk disini. Diatas bukit dibawah pohon cemara gunung, tempat favoritnya. Dari sini rumah2 itu tampak begitu kecil, dekat dalam rengkuhan tangannya. Hati dan pikirannya terbang. Seberapa lama lagi dia dapat melihat ini semua? Seberapa lama lagi dia disini? Dan seberapa lama lagi waktu akan memihaknya? Huuhfft… entahlah semuanya entah berapa kali dia bertanya toh pertanyaan itu tak akan terjawab.
Ify menoleh kearah bawah bukit tempat dimana Ray masih setia menunggunya. Ify tersenyum lirih. Adiknya itu, malah terlihat seperti seorang kakak baginya akhir2 ini. Dia bangga mempunyai seorang saudara seperti Ray. Ternyata keadaan bisa merubah sikap manusia. Huuhh…sudahlah….
Ify kembali memandang lurus kedepan. Dihembuskannya nafasnya berat. Seakan ingin membuang semua bebannya selama ini. Dia ingin tau seberapa kuat dirinya. Tapi nyatanya butiran bening itu meluncur liar dari sudut mata beningnya. Dan sebuah rengkuhan memeluknya erat. Kehangatan yg selalu ditawarkan Ray saat dia ada dalam masalah.
Dalam tangis tanpa suaranya Ify membiarkan tubuhnya semakin dipeluk erat oleh Ray. Menerima tawaran itu sambil berkata, “Terimakasih Ray…”
Ray hanya mengangguk dan tetap memeluk kakaknya. Membiarkan beban itu tumpah seluruhnya atau  kalaupun tidak biarkan beban itu terbagi kepadanya.
***
“Jaga diri baik-baik ya Shill disana…”
Gadis yg dipanggil Shill itu bernama Shilla. Dia malah menangis.
“Kok nangis sih shill?” tanya Ify.
Tanpa mengacuhkan perkataan Ify, Shilla memeluk Ify dlm tangisnya.
“Shill,” panggil Ify heran.
“Aku nggak pengin pisah sama kamu Fy. aku pengin ada disini. Sama-sama kamu,” ucapnya sesenggukkan.
“Kan masih ada Sivia sama Agni, Shill,” ucap Ify.
“Tapi aku pengin ada disini.”
Sementara Sivia dan Agni yg ada disana memandang kejadian itu pilu. Sivia mengelus punggung Shilla.
“Udah ya Shill…. Kamu harus berangkat sekarang. Kan masih ada aku, Agni, kak Rio, kak Alvin, kak Iel, juga kak Cakka,” ucap Sivia menenangkan.
Gabriel atau yg sering dipanggil Iel yg ada disitu berjalan menghampiri Shilla.
“Shilla udah ya…,” ucapnya sambil berusaha agar Shilla melepaskan pelukannya. dan shilla melepaskan pelukannya.
“Jangan nangis ya… nanti cantiknya ilang lho,” ujar Iel sambil menghapus jejak2 sungai dg ibu jarinya. Sementara Rio, Alvin, dan Cakka berjalan lebih mendekat.
“Udah Shilla nggak perlu khawatir. Aku kak cakka, sivia kak alvin, kak iel, dan pastinya kak rio akan tetep ada disini. Ya….,” Agni juga berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Kamu harus yakin. Jangan sia-siain beasiswa yg udah kamu raih dg susah payah ini,” Iel mencoba meyakinkan.
“Aku nggak apa-apakan Shill? Jadi jangan khawatir ya..” sambung Ify dg sebuah senyum khas miliknya.
“Tapi kalau ada apa-apa kalian harus cepet hubungi aku ya….” pinta Shilla.
“Pasti Shill.” Sahut Iel tegas.
Dan setelah mengucapkan beberapa salam perpisahan akhirnya Shilla berangkat dg pesawatnya bersama penumpang lain menuju cita-citanya.
***
Studio lukis rumah Ify……..
Kanfas putih itu kini telah berubah menjadi karya seni indah yg hampir sempurna. Sebuah gambaran kota dg bangunan2 tinggi yg berjubel dalam suasana senja yg indah. Pembiasan warna jingga dan merah yg elok, entah karena malu atau mungkin sekarat. Tapi lukisan itu memang indah.
Ditengah aksinya memoleskan cat minyak dg kuas kesayangannya itu Ify berhenti sejenak lalu mengamati lukisannya yg hampir selesai. Ini sudah kesekian kalinya dia melukis suasana senja, tapi baru kali ini dia sangat-sangat senang dan puas dg lukisannya.
Ify kembali menarikan kuasnya. Dan tiba-tiba kuas itu terjatuh membuat Ify kaget dan takut. Wajahnya yg tadi ceria kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pucat pasi. Tangannya bergetar hebat. Dipandangnya telapak tangannya lekat. Nafasnya terasa sesak dan kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat. Dirasakannya cairan kental mengalir dari hidungnya. Diusapnya dg tangannya yg masih bergetar. Dan nafasnya semakin sesak dan tak beraturan saat  melihat darah pada jarinya.
Semua berputar. Semua menakutkan.  Dan sebelum cairan bening itu keluar dari   sudut matanya semua gelap.
***
Ruang tunggu di depan ICU rumah sakit itu seperti dilanda mendung pekat. Setiap yg ada disana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berdoa untuk keselamatan seseorang yang mereka cintai. Berdoa untuk seseorang yang sedang berjuang di dalam sana. Ify.
“Gimana Ify Pa?” raung seorang wanita disana. Mama Ify.
“Ify pasti baik-baik aja Ma. Tenang ya ma….,”  hibur seorang laki2 yg memeluk mama Ify, itu Papa Ify. Walau sebenarnya siapapun tau wajah laki2 itu juga memancarkan kecemasan seperti istrinya.
“Kak Alvin….,” seru Sivia lirih. Sedari tadi dia juga tak hneti2nya menangis dlm pelukan Alvin.
Sementara Rio, Ray, Iel, Agni, dan Cakka duduk terdunduk msh dalam doa mereka masing2.
KLEKK
Suara pintu dibuka. Seorang berjas putih,dokter yang menangani Ify, keluar dari ruang ICU. Segera semua sontak berdiri.
“Bagaimana keadaan Ify dok?” tanya papa Ify cepat.
Dokter itu menghela nafas berat, “Semua orang memiliki batas dan waktunya sendiri.” Dokter itu menghentikan kalimatnya. Dan satu kalimat itu mampu melumpuhkan pikiran dan perasaan semua orang yg ada disana.
“Apa maksud dokter?” Rio angkat bicara.
“Kekuatan tubuh Ify sudah mencapai batasnya. Dia koma. Maafkan kami.”
Itu seperti petir yang menyambar segala yg ada dibawahnya tanpa terkecuali. Semua shock. Dan tangis tak terbendung.
***
5 bulan berjalan selama Ify koma. Dan tak ada perkembangan yg berarti. Semua sudah mulai putus asa. Apalagi saat Ify malah menunjukkan tanda2 bahwa kondisinya semakin menurun.
Hari itu sabtu pagi……….. semua berkumpul di depan ruang ICU. Papa Mama Ify, Ray, Rio, Sivia, Alvin, Agni, Cakka, Iel, dan ada Shilla disana. Hari ini adalah hari penting. Saat sebuah keputusan manusia yg jauh dari kata sempurna yg akan menentukan hidup dan  mati   seseorang. Dokter sudah mulai turun tangan akan kondisi Ify. Dokter hanya menyarankan jika keluarga masih ingin, Ify masih bisa bertahan hidup dg bantuan alat2 yg ada padanya sekarang. Tapi jika tidak semua telah mengetahui……
“Semua tergantung pada keluarga….. kami hanya bisa membantu semaksimal mungkin. Mungkin Bapak dan Ibu ingin membicarakan dg yg lain. Kami akan datang satu jam lagi.” Ucap dokter lirih lalu pergi.
***
Semua diam. Dari pembicaraan barusan sudah ada satu kesimpulan yg menyakitkan.
“NGGAK!!” tiba2 Ray berseru keras.
“RAY NGGAK SETUJU!!”
“Ray kecilkan suara kamu!” ujar Papa tertahan.
Dg amarah Ray memalingkan mukanya. Lalu menatap semua yg ada di sana lagi.
“Ray nggak setuju,” kini volume suaranya mulai mengecil, “kalau papa atau siapapun nyabut alat2 itu dari kak Ify! Kalian mau bunuh kak Ify?” pertanyaan itu membuat papa dan mamanya kaget.
“Ray….,” Rio mencoba bersuara, tapi gagal. Karna pada kenyataannya dia juga tak ingin itu terjadi.
“Ray yakin kak Ify masih punya kesempatan buat sembuh. Ray mohon Pa, Ma… jangan.. Ray nggak rela!” pertahanan itu jebol. Dg air mata yg dia biarkan mengalir Ray memohon pada Papa dan Mamanya.
“Kata Ray ada benarnya Pa,” wanita itu sedikit luluh.
“Om apa nggak bisa dipikirkan lagi?” tanya Shilla di sela2 tangisnya.
“Rio?” laki2 itu memandang Rio, meminta pendapat.
“Saya…. Tidak dapat memutuskan om. Jujur saya tetap ingin Ify bertahan,” kata Rio lirih tapi tetap terdengar tegas, “Tapi saya juga tidak mau egois..,”
“Maksud loe apa?” bentak Ray kasar.
“Kita nggak bisa egois Ray.  Dengan kita tetep mempertahanin Ify dg alat2 itu. Kita nggak pernah tau apa Ify tersiksa atau enggak. Loe nggak maukan Ify menderita? nggak maukan Ify terus nahan sakitnya karna kita tidak pernah bisa melepas dia?”
Semua terdiam…. Perkataan Rio barusan membuat mereka memikirkan semuanya kembali.
“Aku juga nggak bisa Ray, masih sulit untuk ngelepas Ify. Orang yang kita sayang.” mata Rio menatap Ray dalam.
“Aku sayang sama dia.”
“Semua disini sayang sama Ify Ray,” Cakka mencoba meyakinkan.
“Mama juga sulit Ray, tapi mama coba ikhlas. Semua Cuma demi kakak kamu.” Wanita itu turut angkat bicara. Mencoba tegar, walau gambar diwajahnya adalah kesedihan.
“Kita akan sama2 Ray, sama2 untuk kuat dan iklhas untuk melepas Ify. Jika itu yg terbaik…..”
Ray menunduk, sambil sesekali mengusap wajahnya yg basah.
“Ray?” Papa Ray bertanya.
“Ray akan coba,” ucapnya berat.
“Waktu kita Cuma 40 menit.” Ucap papa ray Ify dg nada berat. Berat karna harus melepas putri kesayangannya. 
bersambung........ 
GG
 
Free Website templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos Onlinefreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates