Aroma khas rumah sakit langsung menusuk saat pria dan wanita berumur itu memasuki ruang ICU. Wanita itu langsung menangis saat melihat kondisi anaknya.
“Ify… ini Mama sama Papa sayang….. kamu dengar Mama?” wanita itu mencoba untuk tegar.
“Ini Papa Ify…. Maafkan Papa ya… yg selama ini kadang marah sama kamu. tapi itu karna papa sangat sayang sama kamu. dan maafkan papa juga karna harus mengambil keputusan ini. tapi papa Cuma ingin yg terbaik buat kamu.”
“sayang….,” wanita itu mengelus rambut Ify lembut, “Mama sayang sekali sama kamu…… kamu adalah anak kebanggaan mama…. Terima kasih karna telah menjadi anak yang baik untuk kami. Terima kasih Ify. Enam belas tahun menjadi bagian hidup kamu, membuat mama belajar banyak. Terimakasih sayang. mama ikhlas….”
Ucapnya lalu mengecup kening Ify.
***
“Ify…. Ini kita agni, sivia, kak alvin, kak cakka….. aku Cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu. makasih udah jadi sahabat yang baik. Sahabat yg selalu menjadi pendengar yg baik. Aku rela Fy. jaga diri baik-baik ya….” Agni mundur mendekati cakka. Sambil menahan air matanya.
“Ify……!!” seru Sivia tertahan dan berhambur memeluk Ify sesaat,” Ini aku Sivia. maaf kalau aku punya salah sama kamu. terimakasih buat jadi sahabat yang baik…… dan terima kasih karna kamu selalu bikin kita bangga. Aku…aku… rela ngelepas kamu.” ucapnya sambil mencium pipi Ify.
“Fy… ini alvin… maaf kalau pernah buat salah sama kamu ya..maaf kalau kata2 aku sering nyakitin kamu.”
“Ini cakka fy… maaf ya kalau sering buat kamu jengkel… terimakasih udah jadi orang terbaik dlm hidup aku, agni dan yg lain. Kita semua sayang sama kamu fy.”
***
Dalam tangis yg tak kunjung reda Shilla memasuki ruang ICU bersama Iel.
“Ify…. Aku nggak nyangka kalau bakal kayak gini… maaf udah ninggalin kamu. seharusnya aku tetep tinggal disini,” ujar Shilla sambil sesekali terisak, “maaf kalau aku punya salah ya… makasih udah jadi sahabat terbaik….. pendengar yg baik….. orang yg bisa buat aku ketawa. Makasih fy… aku iklhas ngelepas kamu.”
“Ify… aku gabriel…. Makasih buat segala hal yang udah kamu kasih ke aku. Makasih buat semuanya dan maaf untuk semuanya juga…. Loe tenang di sana ya…aku janji akan jaga Shilla dg baik…kamu tenang aja.”
***
Ray berjalan gontai menuju tempat kakaknya berbaring. Ini bukan yg diinginkannya. Kenyataan yg paling dihindarinya kini ada didepan matanya. Kehilangan dia. Orang yg walau sering bertengkar dgnya tapi dialah orang yg disayangnya.
“Kak Ify…,” panggilnya sambil memegang tangan kakaknya.
“Kakak tau? Ini hal tersulit yg pernah Ray lakuin dlm hidup Ray. Ray nggak rela kak. Ray nggak rela ngelepas kakak. Tapi Ray…… Ray nggak mau egois. Mungkin… ini yg terbaik buat kakak. Ray pasti akan merasa kehilangan dan kangen banget sama kakak nanti… Hehh…,” Ray tersenyum miris, “Maaf sering buat kakak jengkel. Maaf sering buat kakak marah2. Makasih ya kak…. Makasih.. udah jadi kakak yg paling baik yg selalu bisa Ray andelin. Makasih kak….”
“Ray…. Ray…. Relain kak Ify..!!” dan diakhir kalimatnya Ray berlari keluar dari ruang itu.
***
Putih… selalu seperti ini. ruangan serba putih yg akhir2 ini menjadi akrab dgnya. Dg langkah pelan Rio mendekat ke satu2nya ranjang yg ada di sana. duduk di kursi yg telah ada.
“Hai… cantik… apa kabar?” sapanya lembut sambil menggenggam tangan Ify.
“Kamu tau…? Hari ini ada malaikat turun…. Mereka kasih tau aku kalau mereka mau jemput sahabat mereka…,” Rio jeda matanya mulai berkaca-kaca, “Itu kamu,” lanjutnya lirih.
Rio tersenyum manis sekali.
“Kamu tau sulit bagi aku untuk mengatakan kalau aku dan yg lain harus belajar iklhas buat melepas kamu. karna sampai kapanpun aku pasti nggak akan bisa Fy. karna aku… sangat mencintai kamu. kalau aku bisa, aku ingin kamu tetap ada disini….”
“Maaf kalau selama ini aku sering bikin kamu kesel, marah sama kamu, bikin kamu nangis….,” ucap Rio lembut sambil usap pipi Ify.
“terimakasih untuk 3 tahun yg luar biasa. Kamu yang bisa buat aku selalu tersenyum, buat aku nggak egois, kamu yg selalu mewarnai hari-hariku. Terima kasih Ify…… buat cinta kamu, ketulusan kamu, terima kasih karna telah menjadi bagian dalam hidup aku. Terima kasih untuk menjadi cinta pertamaku,” Rio berdiri membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya agar mendekati wajah Ify.
Rio berbisik tepat ditelinga Ify, “Terima kasih untuk segalanya, aku Mario sangat mencintamu Alyssa……,” Rio berhenti sejenak, “Kalau ini memang waktunya aku…….aku…..,” Rio berhenti. Ternyata tak semudah seperti logikanya.
“Aku ikhlas Fy……..,” diciumnya kening Ify, dan ditahannya. Sebuah doa kecil terselip agar sesuatu yg diharapkannya terjadi. Tapi Tuhan telah menentukan. Alat pemdeteksi detak jantung itu berbunyi nyaring. Garisnya kini hanya mendatar panjang. Berhenti. Jiwa itu telah benar2 pergi. Lepas dari raganya. Melepas semua sakitnya.Melepas semua bebannya. Bahkan sebelum alat itu dilepas.
***
Mendung bukan segalanya, mataharipun tak dapat menghapusnya… semua yang ada disana berduka…. Kehilangan. Dia yang mereka cintai. Pergi untuk selama-lamanya. Menjemput kehidupannya yang abadi.
***
Studio Lukis………….
Kosong. Diam.
Tak ada kehidupan. Tak ada lagi gadis manis yg akan duduk berjam-jam disana untuk melukis. Dan tak akan ada lagi lukisan baru yang diciptakannya. Semuanya akan seperti ini. bahkan lukisan terakhirnypun masih berdiri di papan penyangga. Gadis itu tak akan ada lagi disana. Hanya lukisan2 itu yg akan menceritakan kisah2nya.
Dan lukisan kota dg fokus senja itu akan tetap disana. Tak terselesaikan. Atau memang sengaja tak diselesaikan?
***
8 tahun kemudian…..
Seorang bocah laki2 masuk ke ruang itu dg rasa penasaran yg tergambar jelas diwajahnya. Dan ekspresi itu berganti dg ekspresi kagum saat melihat apa isinya. Dan sebuah lukisan yg masih berdiri di peyangganya menarik perhatiaannya. Tunggu! Ada lukisan aneh dibawah lukisan itu. Bukan! Apa itu?
Sebuah kayu tipis dg garis pembagi. Dan di kayu itu terdapat lukisan senja dan pelangi.
Bocah itu keluar sambil membawa kayu itu bersamanya.
Dimana papanya? Eh? ada suara orang berbincang didepan.
“Terimakasih karna masih menyempatkan datang kesini…”
“Ray jangan begitu…. Aku hanya terkadang… teringat dgnya…”
Dua laki2 dewasa itu tersenyum lirih. Sampai,
“PAPA!!”
“Rizky? Dari mana kamu?”
Bocah cilik yg dipanggil itu hanya tersenyum tanpa dosa.
“Rizky sudah besar ya?”
“Hahha… IYa. Rizky.. ayo beri salam sama Om Rio.”
“Siang Om Rio.” sapa Rizky dg senyum lebarnya.
“Siang Rizky.” Balas Rio ramah.
“Apa ini?” tanya Ray yg melihat ada kotak kayu yg dibawa Rizky.
“Oya.. Pa.. tadi Rizky nemu ini di sebelah kamar tante Ify.”
DEGG…. Kedua wajah laki2 itu seketika berubah.
“Apa?” tanya Rio sebiasa mungkin.
“Nggak tau… bagus ya lukisannya? Apa bisa dibuka ya?”
Ray menatap benda itu dlm diam.
“Papa boelh coba buka?” tanyanya.
Rizky mengangguk antusias.
Dan kotak itu bisa dibuka… sebuah kuas, gelang dan kertas yg tampak sudah usang.
“Gelang itu….” Rio terperanjat.
“Kau tau ?”
Rio mengangguk, “itu gelang yg Ify berikan padaku sivia, agni, shila, alvin, cakka, dan juga iel.”
Ray tertegun… sementara Rio mengalihkan pandangannya pada kuas yg ada disana.
“Ini…,” ucapnya sambil meraba kuas itu, “pasti kuas kesayangannya?”
“Iya….,” ucap Ray lirih.
“Papa.. ini milik tante Ify? Maaf ya Rizky udah ambil…”
“Enggak papa sayang…,” ucap Ray sambil mengelus rambut anaknya itu.
“Apa ini?” Ray membuka kertas usang itu dan mulai membaca. Wajahnya terperangah. Dan dialihkannya pada Rio.
“Ini punya kak Ify,” ucapnya sambil mengulurkan kertas itu pada Rio.
Aku seperti senja……
Cahayanya membuatku terbangun
Mengijinkanku menikmati semuanya
Semua yg bernaung dibawahnya
Hidupku…. Akan seperti warnannya
Warna yg berbeda disetiap senja yg tak sama
Dan ketika senja itu mulai menghilang
Aku akan menjadi sinarnya…
Merah dan jingga….
Malu karna akan sekarat….
Dan ketika senja itu hilang
Aku juga…..
-Alyssa Saufika-
-Alyssa Saufika-
TAMAT

0 komentar:
Posting Komentar