Lanjutan “The Strength”
Kejatuhan
Amsterdam kini tengah malam.
5 jam berdiam dalam pesawat yg berangkat pukul 8 pagi waktu Indonesia bagian barat, ternyata membawanya ke bagian belahan dunia lain saat jam menunjukkan pukul 19.35 waktu setempat.
Pukul 8 pagi waktu Indonesia. Ley tersenyum lirih mengingat itu. 2 jam lebih awal dr apa yg dikatakannya pada ke-3 sahabatnya kemarin lusa. Ley tidak berbohong klo pada awalnya jadwal keberangkatan itu pukul 10, tapi dia ingin tak ada hal yg membuatnya kembali berat untuk meninggalkan tempat itu saat sahabat2nya mengucapkan kata2 perpisahan seperti bayangannya.
Tapi toh 5 menit sebelum pesawat take off dia sudah mengirim sebuah pesan singkat pada ketiganya bahwa dia sudah berada di pintu pesawat. Jadi ketiga cewe itu tak harus kalang kabut tak menemukan dirinya di bandara.
Ley memandang keluar jendela mobil yg ditumpanginya. Negara ini…. indah dan tenang. Ley menarik ujung2 bibirnya, membentuk sebuah senyum khas miliknya. Hari ini dia akan beristirahat sejenak di apartement milik keluarganya sebelum menjalani sederet jadwal pengobatannya.
Ë
Sebuah kamar tidur yg cukup besar dg dominasi warna putih dan cokelat. Masih sama saat terakhir dia kesini untuk berlibur sekitar 1 tahun yg lalu. tetap bersih dan rapi.
Kamar inilah tempat privasinya. Disinilah tempat yg slalu membuatnya nyaman untuk menumpahkan segala perasaannya. Dan mungkin disini nanti juga hal yg paling dia hindari akan terjadi.
Sebuah hal yg dilakukan dg hanya mengikuti perasaan. Bukan logika realistis yg slalu digunakannya. Sebuah hal yg akan merubah segalanya.
Ë
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Ley terbangun dari tidur malamnya yg cukup nyenyak.
Dg sedikit gerakan untuk melemaskan otot2nya, Ley berjalan ke arah pintu kamarnya.
Dia tersenyum saat melihat sosok sang Mama yg berdiri di sana.
“Udah bangun sayang?” tanya sang mama lembut sambil membelai rambut Ley.
Ley mengangguk kecil, lalu kembali melangkah menuju ranjang tidurnya dan duduk di sana. sang Mama mengikuti dan duduk di tepian ranjang.
“Jam berapa sekarng?” tanya Ley dg mata masih sedikit terpejam.
Wanita cantik itu tersenyum dan dia berdiri lalu melangkah sebelum menjawab pertanyaan sang putri. Di bukanya curtain putih yg menutup jendela kaca besar kamar itu.
“Jam 9. Masih ngantuk?” tanyanya penuh perhatian.
“Terlalu nyaman disini,” jawabnya pelan.
“Itu alasan kenapa kamu suka tempat inikan?”
“Ya….” Jawab Ley lagi, masih pelan.
“We have schedule at 11.30 am today. You must get prepared dear..,” ujar sang Mama sambil kembali duduk di tepian ranjang. Ditatapnya Ley teduh.
Ley balas menatap mamanya. Pandangan mata itu akan slalu dirindukannya. Walau dia tahu dia bisa menemukan itu kapanpun dia mau.
Dan ley hanya menjawabnya dg sebuah anggukkan kepala.
“Kalau gitu mama keluar ya…,” pamit sang Mama sambil beranjak keluar.
“Ma…,” panggilan itu membuat sang Mama membalikkan badannya.
“Ya?”
Ley tak langsung menjawab. Dia malah tersenyum dan menatap mamanya lekat.
“Makasih udah bangunin Ley…,” ucapnya kemudian.
“Sama-sama,” balas sang Mama sebelum benar2 meninggalakan kamar putrinya itu.
Ë
Ini hari kesepuluh Ley tinggal di Amsterdam. Dan selama itu pula dia tdk pernah absen untuk control. Tapi itu masih tahap awal. Belum pengobatan yg sesungguhnya. Dan mungkin hari ini adalah awalnya.
Suatu hal yg tak diduga sebelumnya. Karna ini masih terlalu dini. Tapi pernyataan itu sudah keluar begitu saja.
Penyakit itu sudah terlalu liar menjalar. Liar karna terlalu cepat. Liar karna penyakit itu berlari sesuka hatinya.
Mobil itu melaju dalam diam. Ley bahkan sang Mama masih terus diam. Masih terlalu tergunjang dg apa yg mereka dengar.
“Penyakit itu sudah menjalar. Kami tidak menyangka ‘dia’ seagresif ini. Tapi kamu akan berusaha semaksimal mungkin.”
“Kanker itu menggrogoti tubuhnya. Kami takut agresifitasnya terus meningkat.”
Dua hal itu sudah cukup untuk membuat anak dan ibu itu mengerti. Mereka paham. Dan mereka tahu kelanjutan itu semua.
Penyakit itu terus bertambah parah dan harapan itu semakin kecil. Intinya seperti itu.
Tapi tetap dipaksakan agar air mata itu tidak meleleh sekarang.
Ley memilih melihat keluar jendela mobilnya tanpa fokus. Pandangannya kosong. Sama seperti hatinya. Tapi tidak pikirannya. Sedari tadi pertanyaan2 itu terus muncul dr benaknya. Seperti apakah keadaannya sekarang? Sudah separah itukah penyakitnya? Tapi tak ada satupun yg mampu dijawabnya.
Ë
“Are you fine Ley?” tanya sang Mama penuh kelembutan saat mereka sudah sampai di depan apartement.
Ley mengangguk sekilas.
Di dalam sang Papa tengah berkutat dg laptop miliknya. Dan langsung berdiri saat dilihatnya dua orang tercintanya sudah pulang.
“Bagaimana hari ini?” tanyanya. Ditatapnya sang istri lalu sang putri.
Ley tersenyum tenang saat sang Papa menatapnya sedikit cemas. Sebuah senyum khas miliknya. Senyum tanpa beban miliknya. Dan matanyapun masih memancarkan ketenangan yg luar biasa. Sementara sang Mama menatap lirih ekspresi itu.
“Ley ke kamar dulu ya Pa, Ma… mau istirahat,” pamitnya. Msh dalam ketenangan yg sama dia berjalan menuju kamarnya.
“Apa yg terjadi?” tanya sang Papa setelah melihat Ley sudah masuk ke kamar.
Wanita itu menunduk dalam. Tak dapat lagi disembunyikan gurat kesedihan itu seprti yg dilakukannya tadi di depan putrinya.
“Ma….?” Panggil sang Papa.
“Kanker itu… sudah menjalar Pa,” ucapnya lirih. Sangat lirih. Hampir tak terdengar.
Sejenak wajah tegas itu berubah kelam. Apakah dia tak salah dengar?
“Ceritakan ma…,” mintanya pelan.
Sementara itu di dalam kamar….
Ditutupnya pintu perlahan. Dengan senyum dan tatapan tenang yg masih tersisa, Ley duduk di atas ranjangnya perlahan.
Diam dia menatap sebuah lukisan yg tergantung pada dinding di depannya. Dan ekspresi tadi seketika hilang. Senyum itu, ketenangan mata itu. Tak terlihat lagi di sana.
Semuanya terasa lumpuh. Dipaksakannya lagi senyum miliknya itu muncul tapi gagal. Dicobanya lagi tapi masih gagal. Di cobanya lagi dan lagi, dan tetap tak berhasil. Matanya kini menatap sayu. Ketenangan itu hilang sudah.
Rasanya sangat lelah. Sakit dan sesak. Mungkin ini saatnya. Saat dirinya harus mengalah. Dan dugaannya benar ditempat inilah.. hal itu akan terjadi.
Semua membuncah. Lelah, berat, ketakutan, kekhawatiran, dan entah apalagi yg lain. Dan lagi2 pertanyaan2 itu berputar di otaknya.
Haruskah seperti ini? berapa lama lagi dia bisa bertahan? Seberapa kuat lagi dirinya? Salahkah jika ia takut mati sekarang?
Dan lagi2 semua pertanyaan itu hanya tetap sebuah pertanyaan tanpa jawab.
Pandangannya mulai kabur. Lapisan bening itu mulai memenuhi mata indahnya. Inikah waktunya? Saat dia benar2 mengalah dan melakukan dg dasar sebuah perasaan? Tapi ternyata dirinya sudah terlalu lelah dan dia akan mengalah sekarang.
Dengan gerakan tak terkendali seprti kesetanan dia mengobrak2 barang2 yg ada didekatnya dan meja kecil disebelah tempat tidur itu-yg berisi lampu tidur , vas bunga, dan beberapa buku- juga tak luput dari aksinya. Ditambah dg teriakan dari rasa frustasi tak terkendali yg baru pertama kali ini diturutinya.
Diluar mendengar suara ribut dr kamar sang putri, kedua orang tua itu berlari dlm kekhawatiran.
Sesaat tak ada yg bergerak membuka pintu. Mereka hanya diam di depan pintu kayu putih itu. Karna mereka tau itu adalah bagian privasi putrinya. Tapi sejurus kemudian sang mama memutuskan untuk masuk perlahan.
Dibukanya pintu itu perlahan dan dibiarkan setengah terbuka. Wajah wanita itu terkejut tak percaya. Diam mematung di tempatnya.
Itukah putrinya?
Itukah Aleysa Aninda putrinya? Putri yg dikenalnya sangat tegar dan kuat. Putri yg dikenalnya selalu bisa terlihat tenang dan baik2 saja. Itukah putrinya sekarang?
Atau itukah sosok putri tunggalnya yg sebenarnya? Gadis itu menangis dg memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya disana.
Terlihat sangat menyedihkan. Bahkan suara tangisnya pun sangat menyakitkan untuk didengar oleh siapapun. Perlahan sambil menahan air matanya sendiri, sang mama berjalan mendekat lalu duduk diekat sang putri.
“Sayang….,” panggilnya pelan sambil mengusap punggung sang putri. Gadis itu mendongakakn wajahnya ke arah sang mama.
Mata itu. Bukan tatapan mata milik putrinya yg selalu dilihatnya. Mata itu bahkan tak menampakkan bahwa ia selalu memancarkan sinar ketenangan tak terkalahkan. yang terlihat sekarang hanyalah kesedihan yg luar biasa. Rasa lelah yg begitu lama, kecemasan yg begitu memeluk erat pemiliknya, dan ketakutan yg luar biasa.
Gadis itu memeluk sang Mama meminta pertolongan. Sangat erat sambil terus menangis.
“Mama ada disini sayang,” ucap sang mama lirih sambil berusaha menghentikan tangisnya sendiri.
“Ley takut ma…,” ucapnya lirih di sela tangisnya.
“Ley…Ley ta..kut.. Ma… takut,” ucapnya lagi. Kini dg terbata. Dan hanya kalimat yg sama itu yg terus diulangnya.
“Mama disini.”
Wanita itu masih tak percaya. Dalam sebuah pelukan untuk anaknya dia mencoba untuk tegar. Tapi gagal karna untuk pertama kalinya putrinya itu benar2 bersandar padanya. Meminta sebuah kekuatan dan perlindungan. Dia melihatnya sekarang.
Hatinya mencelos.Putri kesayangan dan kebanggaannya itu benar2 terpuruk dan jatuh sekarang. Tanpa topeng dan bentang kokoh milik sang putri.
bersambung. . .
G.G.







