Sabtu, 31 Desember 2011

Ketika Senja Mulai Menghilang (cerpen) - Part B (end)

Aroma khas rumah sakit langsung menusuk saat pria dan wanita berumur itu memasuki ruang ICU. Wanita itu langsung menangis saat melihat kondisi anaknya.
“Ify… ini Mama sama Papa sayang….. kamu dengar Mama?” wanita itu mencoba untuk tegar.
“Ini Papa Ify…. Maafkan Papa ya… yg selama ini kadang marah sama kamu. tapi itu karna papa sangat sayang sama kamu. dan maafkan papa juga karna harus mengambil keputusan ini. tapi papa Cuma ingin yg terbaik buat kamu.”
“sayang….,” wanita itu mengelus rambut Ify lembut, “Mama sayang sekali sama kamu…… kamu adalah anak kebanggaan mama…. Terima kasih karna telah menjadi anak yang baik untuk kami. Terima kasih Ify. Enam belas tahun menjadi bagian hidup kamu, membuat mama belajar banyak. Terimakasih sayang. mama ikhlas….”
Ucapnya lalu mengecup kening Ify.
***
“Ify…. Ini kita agni, sivia, kak alvin, kak cakka….. aku Cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu. makasih udah jadi sahabat yang baik. Sahabat yg selalu menjadi pendengar yg baik. Aku rela Fy. jaga diri baik-baik ya….” Agni mundur mendekati cakka. Sambil menahan air matanya.
“Ify……!!” seru Sivia tertahan dan berhambur memeluk Ify sesaat,” Ini aku Sivia. maaf kalau aku punya salah sama kamu. terimakasih buat jadi sahabat yang baik…… dan terima kasih karna kamu selalu bikin kita bangga. Aku…aku… rela ngelepas kamu.” ucapnya sambil mencium pipi Ify.
“Fy… ini alvin… maaf kalau pernah buat salah sama kamu ya..maaf kalau kata2 aku sering nyakitin kamu.”
“Ini cakka fy… maaf ya kalau sering buat kamu jengkel… terimakasih udah jadi orang terbaik dlm hidup aku, agni dan yg lain. Kita semua sayang sama kamu fy.”
***
Dalam tangis yg tak kunjung reda Shilla memasuki ruang ICU bersama Iel.
“Ify…. Aku nggak nyangka kalau bakal kayak gini… maaf udah ninggalin kamu. seharusnya aku tetep tinggal disini,” ujar Shilla sambil sesekali terisak, “maaf kalau aku punya salah ya… makasih udah jadi sahabat terbaik….. pendengar yg baik….. orang yg bisa buat aku ketawa. Makasih fy… aku iklhas ngelepas kamu.”
“Ify… aku gabriel…. Makasih buat segala hal yang udah kamu kasih ke aku. Makasih buat semuanya dan maaf untuk semuanya juga…. Loe tenang di sana ya…aku janji akan jaga Shilla dg baik…kamu tenang aja.”
***
Ray berjalan gontai menuju tempat kakaknya berbaring. Ini bukan yg diinginkannya. Kenyataan yg paling dihindarinya kini ada didepan matanya. Kehilangan dia. Orang yg walau sering bertengkar dgnya tapi dialah orang yg disayangnya.
“Kak Ify…,” panggilnya sambil memegang tangan kakaknya.
“Kakak tau? Ini hal tersulit yg pernah Ray  lakuin dlm hidup Ray. Ray nggak rela kak. Ray nggak rela ngelepas kakak. Tapi Ray…… Ray nggak mau egois. Mungkin… ini yg terbaik buat kakak. Ray pasti akan merasa kehilangan dan kangen banget sama kakak nanti… Hehh…,” Ray tersenyum miris, “Maaf sering buat kakak jengkel. Maaf sering buat kakak marah2. Makasih ya kak…. Makasih.. udah jadi kakak yg paling baik yg selalu bisa Ray andelin. Makasih kak….”
“Ray…. Ray…. Relain kak Ify..!!” dan diakhir kalimatnya Ray berlari keluar dari ruang itu.
***
Putih… selalu seperti ini. ruangan serba putih yg akhir2 ini menjadi akrab dgnya. Dg langkah pelan Rio mendekat ke satu2nya ranjang yg ada di sana. duduk di kursi yg telah ada.
“Hai… cantik… apa kabar?” sapanya lembut sambil menggenggam tangan Ify.
“Kamu tau…? Hari ini ada malaikat turun…. Mereka kasih tau aku kalau mereka mau jemput sahabat mereka…,” Rio jeda matanya mulai berkaca-kaca, “Itu kamu,” lanjutnya lirih.
Rio tersenyum manis sekali.
“Kamu tau sulit bagi aku untuk mengatakan kalau aku dan yg lain harus belajar iklhas buat melepas kamu. karna sampai kapanpun aku pasti nggak akan bisa Fy. karna aku… sangat mencintai kamu. kalau aku bisa, aku ingin kamu tetap ada disini….”
“Maaf kalau selama ini aku sering bikin kamu kesel, marah sama kamu, bikin kamu nangis….,” ucap Rio lembut sambil usap pipi Ify.
“terimakasih untuk 3 tahun yg luar biasa. Kamu yang bisa buat aku selalu tersenyum, buat aku nggak egois, kamu yg selalu mewarnai hari-hariku. Terima kasih Ify…… buat cinta kamu, ketulusan kamu, terima kasih karna telah menjadi bagian dalam hidup aku. Terima kasih untuk menjadi cinta pertamaku,” Rio berdiri membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya agar mendekati wajah Ify.
Rio berbisik tepat ditelinga Ify, “Terima kasih untuk segalanya, aku Mario sangat mencintamu Alyssa……,” Rio berhenti sejenak, “Kalau ini memang waktunya aku…….aku…..,” Rio berhenti. Ternyata tak semudah seperti logikanya.
“Aku ikhlas Fy……..,” diciumnya kening Ify, dan ditahannya. Sebuah doa kecil terselip agar sesuatu yg diharapkannya terjadi. Tapi Tuhan telah menentukan. Alat pemdeteksi detak jantung itu berbunyi nyaring. Garisnya kini hanya mendatar panjang. Berhenti. Jiwa itu telah benar2 pergi. Lepas dari raganya. Melepas semua sakitnya.Melepas semua bebannya. Bahkan sebelum alat itu dilepas.
***
Mendung bukan segalanya, mataharipun tak dapat menghapusnya… semua yang ada disana berduka…. Kehilangan. Dia yang mereka cintai. Pergi untuk selama-lamanya. Menjemput kehidupannya yang abadi.
***
Studio Lukis………….
Kosong. Diam.
Tak ada kehidupan. Tak ada lagi gadis manis yg akan duduk berjam-jam disana  untuk melukis. Dan tak akan ada lagi lukisan baru yang diciptakannya. Semuanya akan seperti ini. bahkan lukisan terakhirnypun masih berdiri di papan penyangga.  Gadis itu tak akan ada lagi disana. Hanya lukisan2 itu yg akan menceritakan kisah2nya.
Dan lukisan kota dg fokus senja itu akan tetap disana. Tak terselesaikan. Atau memang sengaja tak diselesaikan?
***
8 tahun kemudian…..
Seorang bocah laki2 masuk ke ruang itu dg rasa penasaran yg tergambar jelas diwajahnya. Dan ekspresi itu berganti dg ekspresi kagum saat melihat apa isinya. Dan sebuah lukisan yg masih berdiri di peyangganya menarik perhatiaannya. Tunggu! Ada lukisan aneh dibawah lukisan itu. Bukan! Apa itu?
Sebuah kayu tipis dg garis pembagi. Dan di kayu itu terdapat lukisan senja dan pelangi.
Bocah itu keluar sambil membawa kayu itu bersamanya.
Dimana papanya? Eh? ada suara orang berbincang didepan.
“Terimakasih karna masih menyempatkan datang kesini…”
“Ray jangan begitu…. Aku hanya terkadang… teringat dgnya…”
Dua laki2 dewasa itu tersenyum lirih. Sampai,
“PAPA!!”
“Rizky? Dari mana kamu?”
Bocah cilik yg dipanggil itu hanya tersenyum tanpa dosa.
“Rizky sudah besar ya?”
“Hahha… IYa. Rizky.. ayo beri salam sama Om Rio.”
“Siang Om Rio.” sapa Rizky dg senyum lebarnya.
“Siang Rizky.” Balas Rio ramah.
“Apa ini?” tanya Ray yg melihat ada kotak kayu yg dibawa Rizky.
“Oya.. Pa.. tadi Rizky nemu ini di sebelah kamar tante Ify.”
DEGG…. Kedua wajah laki2 itu seketika berubah.
“Apa?” tanya Rio sebiasa mungkin.
“Nggak tau… bagus ya lukisannya? Apa bisa dibuka ya?”
Ray menatap benda itu dlm diam.
“Papa boelh coba buka?” tanyanya.
Rizky mengangguk antusias.
Dan kotak itu bisa dibuka… sebuah kuas, gelang dan kertas yg tampak sudah usang.
“Gelang itu….” Rio terperanjat.
“Kau tau ?”
Rio mengangguk, “itu gelang yg Ify berikan padaku sivia, agni, shila, alvin, cakka, dan juga iel.”
Ray tertegun… sementara Rio mengalihkan pandangannya pada kuas yg ada disana.
“Ini…,” ucapnya sambil meraba kuas itu, “pasti kuas kesayangannya?”
“Iya….,” ucap Ray lirih.
“Papa.. ini milik tante Ify? Maaf ya Rizky udah ambil…”
“Enggak papa sayang…,” ucap Ray sambil mengelus rambut anaknya itu.
“Apa ini?” Ray membuka kertas usang itu dan mulai membaca. Wajahnya terperangah. Dan dialihkannya pada Rio.
“Ini punya kak Ify,” ucapnya sambil mengulurkan kertas itu pada Rio.
Aku seperti senja……
Cahayanya membuatku terbangun
Mengijinkanku menikmati semuanya
Semua yg bernaung dibawahnya
Hidupku…. Akan seperti warnannya
Warna yg berbeda disetiap senja yg tak sama
Dan ketika senja itu mulai menghilang
Aku akan menjadi sinarnya…
Merah dan jingga….
Malu karna akan sekarat….
Dan ketika senja itu hilang
Aku juga….. 

                                            -Alyssa Saufika-

TAMAT

Minggu, 28 Agustus 2011

Maaf....

Pernah melakukan sesuatu lalu merasa menyesal?
Atau melakukan sesuatu walau tahu itu salah?
Aku pernah........
Sangat menyesal dan merasa sangat bodoh....
Tapi setelah itu, aku berjanji tidak akan mengulangnya lagi...
Maaf.... maaf sekali.........

Senin, 22 Agustus 2011

Ketika Senja Mulai Menghilang (cerpen) - Part A


Senja itu datang ketika aku baru memetanya di mata dan hatiku.....
“Aku nggak pernah berfikir untuk pergi. Tapi rasanya………..,” kalimat itu dibiarkannya menggantung.
“Aku masih ingin kamu untuk tetap tinggal. Disini,” ucap laki2 itu sambil menunjuk dadanya, “Kami masih ingin kamu ada. Aku, papa mama kamu, Ray, juga anak-anak. Semua pengin kamu disini.”
“Aku juga masih ingin kak. Tapi hidup tetap harus realistiskan?” sahutnya lirih.
“Dan harapan itu akan tetap ada!” laki2 itu berucap lirih tapi tegas.
Sepasang anak manusia itu duduk bersanding dalam diam menikmati suasana senja yang indah.
***
Minggu pagi yang cerah. Seorang gadis kurus berambut panjang duduk diam di gazebo rumahnya yg terletak di samping kolam renang.
Seorang laki-laki sekitar 2 tahun lebih muda darinya berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan gadis yg tak lain adalah kakaknya.
“Kak?” sapanya pelan, “Kok udah bangun? Udah cantik lagi?” tanyanya lembut.
Gadis itu tertawa kecil, “Mulai kapan sih Ray, kamu belajar muji kakak gitu?”
“Yee…..,” laki2 yg bernama Ray yg tak lain adik gadis itu sedikit manyun, “Beneran kak Ify.”
“Iya iya Ray..kakak tau. Nggak papa kok. Pengin aja,” jawab gadis bernama Ify itu.
“Kak mau jalan nggak hari ini?” ajaknya dg mata berbinar.
“Kemana?”
“Ke tempat biasa. Kangen kesana nih. Mau ya?”
Ify mengangguk menyetujui.
***
Mobil Yaris Putih itu diparkir di tengah tanah lapang yg dikelilingi ilalang. Dari sana bisa melihat sebagaian kota padat penduduk itu.
“Kok diparkir disini Ray?”
“Nggak papa. Sekali-kali. Biar lebih nyaman aja. Gak jauh jalannya.” Jawab Ray cuek sambil keluar dari mobil. Diikuti Ify.
Ray bersandar di kap mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ify mengikuti Ray bersandar di kap mobil.
Mereka saling diam. Menatap pemandangan yg disuguhkan disana. Di tempat mereka. Tempat pelarian, saat masalah datang atau saat masalah itu pergi. Tempat yg pasti mereka tuju untuk sejenak berhenti dari segala aktifitas. Diam dan berfikir.
Ify mengalihkan pemandangannya pada sebuah bukit yg tak jauh dari tempatnya.
“Dulu aku yang bawa mobil ini,” ujarnya pelan.
“Aku Cuma nggak pengin kakak kenapa-napa. Kalau kakak udah baik-baik aja pasti kakak yg bawa mobil ini lagi,” sahut Ray sambil menoleh pada kakaknya.
“Tapi…waktu itu nggak akan datang…..,” ujarnya lirih. Tapi cukup untuk didengar Ray.
“Kak!,” bentaknya agak keras. Tapi tersungging senyum kecil dibibir Ify.
“Dulu kita suka kesanakan?” tanya Ify pada topik lain. Entah untuk mengalihkan atau apa. Tapi toh Ray tak ingin memperpanjang topik sebelumnya.
“Kakak mau kesana?” tawarnya.
“Kalau aku kesana sendiri?.....” tanyanya pelan.
Ddrreett…ddreettt….
Ray sudah hendak membuka mulutnya saat handphone Ify bergetar.
Sebuah nama yg sangat dikenalnya berkedip di layar handphone.
Mario calling……
“Hallo…..” sapa suara di seberang.
“Kak Rio? ada apa?”
“Kamu sama Ray ada dimana?” ada nada khawatir di setiap katanya.
Ify tertawa kecil, “Aku baik-baik aja. Hari ini aku pengin berdua sama Ray. Nggak papakan?” tanya Ify, lebih pada pertanyaan yg ingin dijawab dg jawaban iya.
“Hhheehhh..,” di seberang telephon Rio menghela nafasnya sejenak, “Iya gak papa. Aku Cuma khawatir. Nanti kalau kamu udah pulang kabarin aku ya?”
“Iya kak…,”
“Miss you Fy.”
“Miss you too.” Dan sambungan telepon putus. Ify memasukan kembali handphonenya di kantung jaketnya.
“Kakak boleh kesana sendiri,” ucap Ray kemudian tepat saat Ify memasukan handphonenya kembali. Sedikit terkejut Ify menoleh ke arah Ray.
“Aku akan nunggu disini,” lanjutnya sambil tersenyum. Sebuah senyum hangat dan tulus dari seorang saudara dg kasih sayang yg begitu besar.
***
Entah sudah berapa lama dia duduk disini. Diatas bukit dibawah pohon cemara gunung, tempat favoritnya. Dari sini rumah2 itu tampak begitu kecil, dekat dalam rengkuhan tangannya. Hati dan pikirannya terbang. Seberapa lama lagi dia dapat melihat ini semua? Seberapa lama lagi dia disini? Dan seberapa lama lagi waktu akan memihaknya? Huuhfft… entahlah semuanya entah berapa kali dia bertanya toh pertanyaan itu tak akan terjawab.
Ify menoleh kearah bawah bukit tempat dimana Ray masih setia menunggunya. Ify tersenyum lirih. Adiknya itu, malah terlihat seperti seorang kakak baginya akhir2 ini. Dia bangga mempunyai seorang saudara seperti Ray. Ternyata keadaan bisa merubah sikap manusia. Huuhh…sudahlah….
Ify kembali memandang lurus kedepan. Dihembuskannya nafasnya berat. Seakan ingin membuang semua bebannya selama ini. Dia ingin tau seberapa kuat dirinya. Tapi nyatanya butiran bening itu meluncur liar dari sudut mata beningnya. Dan sebuah rengkuhan memeluknya erat. Kehangatan yg selalu ditawarkan Ray saat dia ada dalam masalah.
Dalam tangis tanpa suaranya Ify membiarkan tubuhnya semakin dipeluk erat oleh Ray. Menerima tawaran itu sambil berkata, “Terimakasih Ray…”
Ray hanya mengangguk dan tetap memeluk kakaknya. Membiarkan beban itu tumpah seluruhnya atau  kalaupun tidak biarkan beban itu terbagi kepadanya.
***
“Jaga diri baik-baik ya Shill disana…”
Gadis yg dipanggil Shill itu bernama Shilla. Dia malah menangis.
“Kok nangis sih shill?” tanya Ify.
Tanpa mengacuhkan perkataan Ify, Shilla memeluk Ify dlm tangisnya.
“Shill,” panggil Ify heran.
“Aku nggak pengin pisah sama kamu Fy. aku pengin ada disini. Sama-sama kamu,” ucapnya sesenggukkan.
“Kan masih ada Sivia sama Agni, Shill,” ucap Ify.
“Tapi aku pengin ada disini.”
Sementara Sivia dan Agni yg ada disana memandang kejadian itu pilu. Sivia mengelus punggung Shilla.
“Udah ya Shill…. Kamu harus berangkat sekarang. Kan masih ada aku, Agni, kak Rio, kak Alvin, kak Iel, juga kak Cakka,” ucap Sivia menenangkan.
Gabriel atau yg sering dipanggil Iel yg ada disitu berjalan menghampiri Shilla.
“Shilla udah ya…,” ucapnya sambil berusaha agar Shilla melepaskan pelukannya. dan shilla melepaskan pelukannya.
“Jangan nangis ya… nanti cantiknya ilang lho,” ujar Iel sambil menghapus jejak2 sungai dg ibu jarinya. Sementara Rio, Alvin, dan Cakka berjalan lebih mendekat.
“Udah Shilla nggak perlu khawatir. Aku kak cakka, sivia kak alvin, kak iel, dan pastinya kak rio akan tetep ada disini. Ya….,” Agni juga berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Kamu harus yakin. Jangan sia-siain beasiswa yg udah kamu raih dg susah payah ini,” Iel mencoba meyakinkan.
“Aku nggak apa-apakan Shill? Jadi jangan khawatir ya..” sambung Ify dg sebuah senyum khas miliknya.
“Tapi kalau ada apa-apa kalian harus cepet hubungi aku ya….” pinta Shilla.
“Pasti Shill.” Sahut Iel tegas.
Dan setelah mengucapkan beberapa salam perpisahan akhirnya Shilla berangkat dg pesawatnya bersama penumpang lain menuju cita-citanya.
***
Studio lukis rumah Ify……..
Kanfas putih itu kini telah berubah menjadi karya seni indah yg hampir sempurna. Sebuah gambaran kota dg bangunan2 tinggi yg berjubel dalam suasana senja yg indah. Pembiasan warna jingga dan merah yg elok, entah karena malu atau mungkin sekarat. Tapi lukisan itu memang indah.
Ditengah aksinya memoleskan cat minyak dg kuas kesayangannya itu Ify berhenti sejenak lalu mengamati lukisannya yg hampir selesai. Ini sudah kesekian kalinya dia melukis suasana senja, tapi baru kali ini dia sangat-sangat senang dan puas dg lukisannya.
Ify kembali menarikan kuasnya. Dan tiba-tiba kuas itu terjatuh membuat Ify kaget dan takut. Wajahnya yg tadi ceria kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pucat pasi. Tangannya bergetar hebat. Dipandangnya telapak tangannya lekat. Nafasnya terasa sesak dan kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat. Dirasakannya cairan kental mengalir dari hidungnya. Diusapnya dg tangannya yg masih bergetar. Dan nafasnya semakin sesak dan tak beraturan saat  melihat darah pada jarinya.
Semua berputar. Semua menakutkan.  Dan sebelum cairan bening itu keluar dari   sudut matanya semua gelap.
***
Ruang tunggu di depan ICU rumah sakit itu seperti dilanda mendung pekat. Setiap yg ada disana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berdoa untuk keselamatan seseorang yang mereka cintai. Berdoa untuk seseorang yang sedang berjuang di dalam sana. Ify.
“Gimana Ify Pa?” raung seorang wanita disana. Mama Ify.
“Ify pasti baik-baik aja Ma. Tenang ya ma….,”  hibur seorang laki2 yg memeluk mama Ify, itu Papa Ify. Walau sebenarnya siapapun tau wajah laki2 itu juga memancarkan kecemasan seperti istrinya.
“Kak Alvin….,” seru Sivia lirih. Sedari tadi dia juga tak hneti2nya menangis dlm pelukan Alvin.
Sementara Rio, Ray, Iel, Agni, dan Cakka duduk terdunduk msh dalam doa mereka masing2.
KLEKK
Suara pintu dibuka. Seorang berjas putih,dokter yang menangani Ify, keluar dari ruang ICU. Segera semua sontak berdiri.
“Bagaimana keadaan Ify dok?” tanya papa Ify cepat.
Dokter itu menghela nafas berat, “Semua orang memiliki batas dan waktunya sendiri.” Dokter itu menghentikan kalimatnya. Dan satu kalimat itu mampu melumpuhkan pikiran dan perasaan semua orang yg ada disana.
“Apa maksud dokter?” Rio angkat bicara.
“Kekuatan tubuh Ify sudah mencapai batasnya. Dia koma. Maafkan kami.”
Itu seperti petir yang menyambar segala yg ada dibawahnya tanpa terkecuali. Semua shock. Dan tangis tak terbendung.
***
5 bulan berjalan selama Ify koma. Dan tak ada perkembangan yg berarti. Semua sudah mulai putus asa. Apalagi saat Ify malah menunjukkan tanda2 bahwa kondisinya semakin menurun.
Hari itu sabtu pagi……….. semua berkumpul di depan ruang ICU. Papa Mama Ify, Ray, Rio, Sivia, Alvin, Agni, Cakka, Iel, dan ada Shilla disana. Hari ini adalah hari penting. Saat sebuah keputusan manusia yg jauh dari kata sempurna yg akan menentukan hidup dan  mati   seseorang. Dokter sudah mulai turun tangan akan kondisi Ify. Dokter hanya menyarankan jika keluarga masih ingin, Ify masih bisa bertahan hidup dg bantuan alat2 yg ada padanya sekarang. Tapi jika tidak semua telah mengetahui……
“Semua tergantung pada keluarga….. kami hanya bisa membantu semaksimal mungkin. Mungkin Bapak dan Ibu ingin membicarakan dg yg lain. Kami akan datang satu jam lagi.” Ucap dokter lirih lalu pergi.
***
Semua diam. Dari pembicaraan barusan sudah ada satu kesimpulan yg menyakitkan.
“NGGAK!!” tiba2 Ray berseru keras.
“RAY NGGAK SETUJU!!”
“Ray kecilkan suara kamu!” ujar Papa tertahan.
Dg amarah Ray memalingkan mukanya. Lalu menatap semua yg ada di sana lagi.
“Ray nggak setuju,” kini volume suaranya mulai mengecil, “kalau papa atau siapapun nyabut alat2 itu dari kak Ify! Kalian mau bunuh kak Ify?” pertanyaan itu membuat papa dan mamanya kaget.
“Ray….,” Rio mencoba bersuara, tapi gagal. Karna pada kenyataannya dia juga tak ingin itu terjadi.
“Ray yakin kak Ify masih punya kesempatan buat sembuh. Ray mohon Pa, Ma… jangan.. Ray nggak rela!” pertahanan itu jebol. Dg air mata yg dia biarkan mengalir Ray memohon pada Papa dan Mamanya.
“Kata Ray ada benarnya Pa,” wanita itu sedikit luluh.
“Om apa nggak bisa dipikirkan lagi?” tanya Shilla di sela2 tangisnya.
“Rio?” laki2 itu memandang Rio, meminta pendapat.
“Saya…. Tidak dapat memutuskan om. Jujur saya tetap ingin Ify bertahan,” kata Rio lirih tapi tetap terdengar tegas, “Tapi saya juga tidak mau egois..,”
“Maksud loe apa?” bentak Ray kasar.
“Kita nggak bisa egois Ray.  Dengan kita tetep mempertahanin Ify dg alat2 itu. Kita nggak pernah tau apa Ify tersiksa atau enggak. Loe nggak maukan Ify menderita? nggak maukan Ify terus nahan sakitnya karna kita tidak pernah bisa melepas dia?”
Semua terdiam…. Perkataan Rio barusan membuat mereka memikirkan semuanya kembali.
“Aku juga nggak bisa Ray, masih sulit untuk ngelepas Ify. Orang yang kita sayang.” mata Rio menatap Ray dalam.
“Aku sayang sama dia.”
“Semua disini sayang sama Ify Ray,” Cakka mencoba meyakinkan.
“Mama juga sulit Ray, tapi mama coba ikhlas. Semua Cuma demi kakak kamu.” Wanita itu turut angkat bicara. Mencoba tegar, walau gambar diwajahnya adalah kesedihan.
“Kita akan sama2 Ray, sama2 untuk kuat dan iklhas untuk melepas Ify. Jika itu yg terbaik…..”
Ray menunduk, sambil sesekali mengusap wajahnya yg basah.
“Ray?” Papa Ray bertanya.
“Ray akan coba,” ucapnya berat.
“Waktu kita Cuma 40 menit.” Ucap papa ray Ify dg nada berat. Berat karna harus melepas putri kesayangannya. 
bersambung........ 
GG

Sabtu, 20 Agustus 2011

The Strength Part 1


“Rasanya berat banget,”  gadis itu tersenyum miris.
“Kenapa baru ngomong sekarang?”  tanya seorang gadis dg bandana biru.
“Kamu nggak becanda kan?”  tanya gadis lain lagi yg memakai kemeja putih polos.
Gadis yg ditanyai itu menggeleng.
Sementara gadis lainnya lagi yg rambutnya dikuncir kuda hanya diam memandang salah satu sahabatnya itu yg sedang mjd pokok pembicaraan.
“Maaf…,” ucap gadis yg msh tersenyum miris. Namanya Ley. Aleysa. Dan yg sedang bersamanya kini adalah ke-3 sahabat terbaiknya, Tara,gadis berbandana biru, Rora.Aurora-gadis berkemeja putih, dan Rena,yg sedari tadi diam memperhatikan.
“Buat apa?” tanya Tara pelan. Ley hanya tersenyum tipis.
“Loe munafik!” ucap Rena tiba2, pelan tapi tajam.
Ketiga yg lain kaget dan sontak menoleh kearah Rena yg mereka ketahui plg irit ngomong.
Ley hanya diam menunggu kelanjutan kalimat itu.
“Jangan dipikul sendirian klo terlalu berat. Jgn Cuma disimpan klo hanya akan buat kecewa. Jangan terus berlari klo memang terlalu lelah.” Rena mengucapkan itu sambil memberi jeda di setiap akhir kalimatnya.
“Siapa yg slalu ngomong kayak gitu?” tanyanya datar, seolah tanpa ekspresi.
“Ren….,” panggil Rora pelan mencoba menenangkan sahabatnya itu. Dia tahu sahabatnya ini bukan dlm keadaan tak peduli. Tapi dari nada dan ekspresi wajah itu, sahabatnya ini sedang dlm kondisi yg sangat kecewa.
Seakan tak mempedulikan panggilan Rora, Rena meneruskan perkataannya yg sempat dia hentikan sejenak, “Loe slalu bilang loe tau segalanya tentang sahabat loe! tapi loe!.... nggak pernah membiarkan kita tau sedikitpun tentang loe!” ucapnya tajam.
Rena berhenti. Dan sepertinya tak berniat meneruskan kalimatnya lagi.
“Ley…..,” panggil Rora pelan sambil mengelus satu pundak Ley.
“Nggak papa..,” ucapnya lirih.
“Terkadang, sering bahkan…,” ujar Tara pelan. Sambil menunduk, “Kita terlebih gw, pengin bisa jadi tempat loe bersandar….. bukan hanya sekedar tempat berbagi kebahagian, tapi juga tempat berbagi dlm kesedihan dan masalah,” Tara jeda sejenak, mengatur nafasnya.
“Dimata gw… loe adalah sosok yg sempurna. Slalu terlihat bahagia. Walau gw tau loe pasti juga punya masalah kayak yg lain,” Tara jeda lagi.
“Tapi gw nggak bisa maksa loe buat cerita…. Loe slalu ada saat kita punya masalah. Slalu ada untk berbagi cerita. Dan slalu bersedia untuk mjd tempat bersandar. Menjadi tempt perhentian saat kita lelah setelah lari dr masalah….,” Tara mengatur nafasnya. Kini memberanikan diri untuk menatap wajah sahabatnya yg sedari tadi memandangnya dlm sorot mata ketenangannya.
“Slalu ada saat kita butuh. Tapi… loe nggak pernah jadiin kita kayak gitu,” Tara berpaling pada stage kecil di tengah café.
Gadis yg sedari tadi namanya disebut hanya terus membisu dlm senyum tipisnya.
“Kita masih sahabatkan Ley?” tanya Tara lirih, lebih seprti bisikan tp masih bisa didengar oleh 4 orang sahabat itu.
Lagi-lagi Ley hanya diam, sambil lebih sedikit menarik ujung-ujung bibirnya.
“Kalau loe masih nganggap kita sahabat,” Rena bersuara kembali. Kini nadanya terdengar lebih keras, “Anggep kita seperti kita anggep loe! Kita nggak akan pernah menghindar. Karna sahabat nggak akan pernah mundur walau hanya satu langkah.”
“Trima kasih,” ucap Ley kemudian. Ada pancaran tak percaya dari dua mata beningnya itu.
“Ley…. Kita semua sayang sama kamu. Dan kita juga pengin yg terbaik untuk sahabat kita,” ucap Rora kemudian. Lembut penuh kesabaran.
“Gw akan ke Amsterdam besok,” ucap Ley tiba2. Tegas penuh keyakinan.
Semua menatapnya tak percaya.
“Amsterdam?” ulang Rora tak percaya.
“Gw akan berobat di sana. Besok jam 10 pagi.”
“Tapi….”
“Ra,” potong Ley cepat, “Makasih buat semua perhatian kalian. Gw bangga punya sahabat2 kayak kalian,” Ley berhenti sejenak. Menatap satu2 sahabatnya.
“Gw seneng nglakuin itu semua untuk kalian. Gw nggak munafik. Karna menurut gw, emang nggak ada yg harus dicritain ke kalian. Dan untuk penyakit gw itu…..,” Ley menarik nafasnya.
“Gw pasti akan cerita. Dan ternyata waktunya adalah sekrg,” lanjutnya pelan.
Semua diam….. masih terlalu sulit untuk mencerna semua perkataan itu.
“Berapa lama?” tanya Rora pelan.
“Entahlah…. Tapi klo memang bisa…., gw pasti akan balik lagi ke Indonesia,” jawabnya tenang disertai sebuah senyum kecil miliknya.
Tak ada yg menanggapi. Semua diam. Sudah terlalu berat dan melelahkan pembicaraan ini barusan.
Bukan seperti ini sebenarnya yg mereka inginkan. Bukan kalimat itu yg mereka harapkan. Tapi Ley tetaplah Ley. Seorang gadis mandiri yg selalu terlihat tegar dan kuat. Selalu terlihat baik2 saja, selalu terlihat sempurna.
Bahkan saat semua hal, saat semua ucapan sudah menghujam pertahanan terdalam miliknya. Saat semua hal seakan sudah meluluh lantakan topeng kebahagian abadi miliknya. Tapi ternyata topeng dan dinding itu terlalu tebal untuk ditembus dan terlalu kuat untuk dihancurkan. Bahkan ketenangan itu masih ada disana.
˜˜Ë™™
Mobil Yaris putih gading itu melaju sedang di sepanjang jalan raya  yg malam ini cukup lengang. Di bawah langit berbintang Ley melajukan mobilnya dalam diam. Ini malam terakhirnya di Jakarta. Sekilas dipandanginya sepanjang jalan yg dilaluinya. Masih sama.
Detik berikutnya di liriknya sekilas isi mobilnya. Mobil ini, pemberian Papanya saat ulang tahunnya yg ke 14. Tapi baru dipakainya saat masuk SMA, 2 tahun yg lalu.
Sudah banyak hal yg terjadi disini. Ley tersenyum geli mengingatnya. Dia masih ingat betul bagaimana pertama kali dia menjalankan mobil ini. bagaimana ekspresi ke-3 sahbatnya itu saat ikut naik ketika dirinya membawa mobil ini ke sekolah untuk pertama kalinya.
Saat-saat bersama di dalam mobil ini. Tawa, tangis, semua pernah terjadi di sini. Dan ini saat2 terakhirnya mengemudikan mobil ini. mobil kesayangannya.
Tiba2 semua bayangan itu menohok hatinya. Ada rasa sesak saat dia sadar bahwa dia tidak akan lagi disni. Tidak akan ditemuinya lagi ke-3 sahabatnya itu. Dipaksakannya sebuah senyum khas miliknya. Tapi gagal.
Mobil itu dihentikan di tepi jalan. Ley tidak keluar dia hanya diam di kursi pengemudi sambil menatap nanar jalan di depannya.
Semua yg telah terjadi. Ketegaran dan kebahagian yg selalu dapat dg sempurna di ciptakannya terkadang  membuatnya lelah. Kenangan2 dg sahabat2 terbaiknya. Dan yg terakhir apa yg menimpanya terakhir ini. sebuah alasan kenapa dirinya menyetujui untuk pergi ke negara bunga tulip itu.
Bukan sebuah alasan sebenarnya tapi untuk 2 alasan. Berobat dan yg paling penting adalah jika nanti ternyata dirinya tak sekuat apa yg dipikirkannya selama ini, dia tidak harus terpuruk dan hancur di depan orang2 tersayangnya. Cukup ke dua orang tuanya. Selain itu tak pernah dia biarkan siapapun melihat saat2 dirinya harus jatuh.
Dan ternyata ‘dinding’ itu sudah mulai terkikis sekarang. Karena saat penat itu benar2 pecah, dia akan mengalah. Membiarkan topeng itu hilang kemanapun dia mau. Membiarkan dinding kokoh itu hancur luluh lantang tak bersisa. Tapi bukan disini. Ada tempatnya sendiri.
Ley membuang nafasnya berat, sekali lagi. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dan mobil itu kembali melaju sedang, sekedar untuk menikmati malam terakhirnya di sini. 
bersambung......
GG

Foto Bareng Temen

          Rwe-rwe, Addin, Galuh

          

          Qorina, Annas, Dhea, Khrisna






Jumat, 19 Agustus 2011

DSLR

Gara-gara temen2 .. jadi ke bawa pengin kamera DSLR... Tapi ternyata emang aku juga tertarik sama dunia foto-memfoto....
Dan Mama-I love you !!!- ngasih hadiah kamera DSLR... Hahahaha seneng banget... jadi tambah narsis...





Akhirnya sering jadi fotografer dadakan... tapi seru sih... lewat kamera segala ekspresi sama kejadian lucu dan kecil bisa terekam disana...
foto-foto nya menyusul aja deh...

Rabu, 17 Agustus 2011

Lost a Thing


Nada sumbang itu menggema tak henti mengikuti setiap gurat duka yg masih menetap disana. menyelinap dan berputar seperti lagu duka piringan hitam klasik. Tidak akan berhenti jika sang pemilik tidak menghentikannya sendiri.
“Init ante temuin di kamar Rio Fy…,” ucap tante Manda menahan tangis sambil mengulurkan sebuah amplop merah marun.
Sambil sesekali mengusap air matanya Ify menerima amplop itu lalu membukanya. Masih tulisan tangan yang sama. Tulisan tangan yang sangat dikenali Ify.

To : Alyssa Saufika-ku
            Hai Fy… ini pasti akan jadi hal terakhir yg bisa aku sampaikan ke kamu. Kita tahu akhirnya aku benar-benar pergi. Nggak aka nada lagi untuk bisa kamu sentuh. Tapi aku akan tetap menjaga kamu dari tempatku sekarang.
            Ify…… Terimakasih untuk 3 tahun yang luar biasa. Terima kasih untuk setiap hal yg kamu lakukan untuk mewarnai setiap hariku. Untuk kesabaran juga pengertian dari ketulusanmu. Untuk semua ego dan sifat burukku, aku minta maaf.
            Mencintaimu adalah hal terindah. Maaf aku akhirnya meninggalkanmu sendiri. Dengan kesedihan yang aku buat untukmu. Aku tahu, tidak seharusnya aku membawamu masuk dalam kehidupan, yg aku sendiri tidak tahu bagaimana akhirnya.
            Maaf dan terima kasih untuk cintamu ……
            Love you forever ……
-Mario-

Entah sejak kapan kertas itu akhirnya basah oleh setiap air mata kesedihan miliknya. Pada akhirnya kehilangan itu merubah dirinya.
-TAMAT- 


  Sebenernya ini cerita udah agak lama, trus pengin aja d post di sini....
GG

 
Free Website templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos Onlinefreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates