Senin, 22 Agustus 2011

Ketika Senja Mulai Menghilang (cerpen) - Part A


Senja itu datang ketika aku baru memetanya di mata dan hatiku.....
“Aku nggak pernah berfikir untuk pergi. Tapi rasanya………..,” kalimat itu dibiarkannya menggantung.
“Aku masih ingin kamu untuk tetap tinggal. Disini,” ucap laki2 itu sambil menunjuk dadanya, “Kami masih ingin kamu ada. Aku, papa mama kamu, Ray, juga anak-anak. Semua pengin kamu disini.”
“Aku juga masih ingin kak. Tapi hidup tetap harus realistiskan?” sahutnya lirih.
“Dan harapan itu akan tetap ada!” laki2 itu berucap lirih tapi tegas.
Sepasang anak manusia itu duduk bersanding dalam diam menikmati suasana senja yang indah.
***
Minggu pagi yang cerah. Seorang gadis kurus berambut panjang duduk diam di gazebo rumahnya yg terletak di samping kolam renang.
Seorang laki-laki sekitar 2 tahun lebih muda darinya berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan gadis yg tak lain adalah kakaknya.
“Kak?” sapanya pelan, “Kok udah bangun? Udah cantik lagi?” tanyanya lembut.
Gadis itu tertawa kecil, “Mulai kapan sih Ray, kamu belajar muji kakak gitu?”
“Yee…..,” laki2 yg bernama Ray yg tak lain adik gadis itu sedikit manyun, “Beneran kak Ify.”
“Iya iya Ray..kakak tau. Nggak papa kok. Pengin aja,” jawab gadis bernama Ify itu.
“Kak mau jalan nggak hari ini?” ajaknya dg mata berbinar.
“Kemana?”
“Ke tempat biasa. Kangen kesana nih. Mau ya?”
Ify mengangguk menyetujui.
***
Mobil Yaris Putih itu diparkir di tengah tanah lapang yg dikelilingi ilalang. Dari sana bisa melihat sebagaian kota padat penduduk itu.
“Kok diparkir disini Ray?”
“Nggak papa. Sekali-kali. Biar lebih nyaman aja. Gak jauh jalannya.” Jawab Ray cuek sambil keluar dari mobil. Diikuti Ify.
Ray bersandar di kap mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ify mengikuti Ray bersandar di kap mobil.
Mereka saling diam. Menatap pemandangan yg disuguhkan disana. Di tempat mereka. Tempat pelarian, saat masalah datang atau saat masalah itu pergi. Tempat yg pasti mereka tuju untuk sejenak berhenti dari segala aktifitas. Diam dan berfikir.
Ify mengalihkan pemandangannya pada sebuah bukit yg tak jauh dari tempatnya.
“Dulu aku yang bawa mobil ini,” ujarnya pelan.
“Aku Cuma nggak pengin kakak kenapa-napa. Kalau kakak udah baik-baik aja pasti kakak yg bawa mobil ini lagi,” sahut Ray sambil menoleh pada kakaknya.
“Tapi…waktu itu nggak akan datang…..,” ujarnya lirih. Tapi cukup untuk didengar Ray.
“Kak!,” bentaknya agak keras. Tapi tersungging senyum kecil dibibir Ify.
“Dulu kita suka kesanakan?” tanya Ify pada topik lain. Entah untuk mengalihkan atau apa. Tapi toh Ray tak ingin memperpanjang topik sebelumnya.
“Kakak mau kesana?” tawarnya.
“Kalau aku kesana sendiri?.....” tanyanya pelan.
Ddrreett…ddreettt….
Ray sudah hendak membuka mulutnya saat handphone Ify bergetar.
Sebuah nama yg sangat dikenalnya berkedip di layar handphone.
Mario calling……
“Hallo…..” sapa suara di seberang.
“Kak Rio? ada apa?”
“Kamu sama Ray ada dimana?” ada nada khawatir di setiap katanya.
Ify tertawa kecil, “Aku baik-baik aja. Hari ini aku pengin berdua sama Ray. Nggak papakan?” tanya Ify, lebih pada pertanyaan yg ingin dijawab dg jawaban iya.
“Hhheehhh..,” di seberang telephon Rio menghela nafasnya sejenak, “Iya gak papa. Aku Cuma khawatir. Nanti kalau kamu udah pulang kabarin aku ya?”
“Iya kak…,”
“Miss you Fy.”
“Miss you too.” Dan sambungan telepon putus. Ify memasukan kembali handphonenya di kantung jaketnya.
“Kakak boleh kesana sendiri,” ucap Ray kemudian tepat saat Ify memasukan handphonenya kembali. Sedikit terkejut Ify menoleh ke arah Ray.
“Aku akan nunggu disini,” lanjutnya sambil tersenyum. Sebuah senyum hangat dan tulus dari seorang saudara dg kasih sayang yg begitu besar.
***
Entah sudah berapa lama dia duduk disini. Diatas bukit dibawah pohon cemara gunung, tempat favoritnya. Dari sini rumah2 itu tampak begitu kecil, dekat dalam rengkuhan tangannya. Hati dan pikirannya terbang. Seberapa lama lagi dia dapat melihat ini semua? Seberapa lama lagi dia disini? Dan seberapa lama lagi waktu akan memihaknya? Huuhfft… entahlah semuanya entah berapa kali dia bertanya toh pertanyaan itu tak akan terjawab.
Ify menoleh kearah bawah bukit tempat dimana Ray masih setia menunggunya. Ify tersenyum lirih. Adiknya itu, malah terlihat seperti seorang kakak baginya akhir2 ini. Dia bangga mempunyai seorang saudara seperti Ray. Ternyata keadaan bisa merubah sikap manusia. Huuhh…sudahlah….
Ify kembali memandang lurus kedepan. Dihembuskannya nafasnya berat. Seakan ingin membuang semua bebannya selama ini. Dia ingin tau seberapa kuat dirinya. Tapi nyatanya butiran bening itu meluncur liar dari sudut mata beningnya. Dan sebuah rengkuhan memeluknya erat. Kehangatan yg selalu ditawarkan Ray saat dia ada dalam masalah.
Dalam tangis tanpa suaranya Ify membiarkan tubuhnya semakin dipeluk erat oleh Ray. Menerima tawaran itu sambil berkata, “Terimakasih Ray…”
Ray hanya mengangguk dan tetap memeluk kakaknya. Membiarkan beban itu tumpah seluruhnya atau  kalaupun tidak biarkan beban itu terbagi kepadanya.
***
“Jaga diri baik-baik ya Shill disana…”
Gadis yg dipanggil Shill itu bernama Shilla. Dia malah menangis.
“Kok nangis sih shill?” tanya Ify.
Tanpa mengacuhkan perkataan Ify, Shilla memeluk Ify dlm tangisnya.
“Shill,” panggil Ify heran.
“Aku nggak pengin pisah sama kamu Fy. aku pengin ada disini. Sama-sama kamu,” ucapnya sesenggukkan.
“Kan masih ada Sivia sama Agni, Shill,” ucap Ify.
“Tapi aku pengin ada disini.”
Sementara Sivia dan Agni yg ada disana memandang kejadian itu pilu. Sivia mengelus punggung Shilla.
“Udah ya Shill…. Kamu harus berangkat sekarang. Kan masih ada aku, Agni, kak Rio, kak Alvin, kak Iel, juga kak Cakka,” ucap Sivia menenangkan.
Gabriel atau yg sering dipanggil Iel yg ada disitu berjalan menghampiri Shilla.
“Shilla udah ya…,” ucapnya sambil berusaha agar Shilla melepaskan pelukannya. dan shilla melepaskan pelukannya.
“Jangan nangis ya… nanti cantiknya ilang lho,” ujar Iel sambil menghapus jejak2 sungai dg ibu jarinya. Sementara Rio, Alvin, dan Cakka berjalan lebih mendekat.
“Udah Shilla nggak perlu khawatir. Aku kak cakka, sivia kak alvin, kak iel, dan pastinya kak rio akan tetep ada disini. Ya….,” Agni juga berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Kamu harus yakin. Jangan sia-siain beasiswa yg udah kamu raih dg susah payah ini,” Iel mencoba meyakinkan.
“Aku nggak apa-apakan Shill? Jadi jangan khawatir ya..” sambung Ify dg sebuah senyum khas miliknya.
“Tapi kalau ada apa-apa kalian harus cepet hubungi aku ya….” pinta Shilla.
“Pasti Shill.” Sahut Iel tegas.
Dan setelah mengucapkan beberapa salam perpisahan akhirnya Shilla berangkat dg pesawatnya bersama penumpang lain menuju cita-citanya.
***
Studio lukis rumah Ify……..
Kanfas putih itu kini telah berubah menjadi karya seni indah yg hampir sempurna. Sebuah gambaran kota dg bangunan2 tinggi yg berjubel dalam suasana senja yg indah. Pembiasan warna jingga dan merah yg elok, entah karena malu atau mungkin sekarat. Tapi lukisan itu memang indah.
Ditengah aksinya memoleskan cat minyak dg kuas kesayangannya itu Ify berhenti sejenak lalu mengamati lukisannya yg hampir selesai. Ini sudah kesekian kalinya dia melukis suasana senja, tapi baru kali ini dia sangat-sangat senang dan puas dg lukisannya.
Ify kembali menarikan kuasnya. Dan tiba-tiba kuas itu terjatuh membuat Ify kaget dan takut. Wajahnya yg tadi ceria kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pucat pasi. Tangannya bergetar hebat. Dipandangnya telapak tangannya lekat. Nafasnya terasa sesak dan kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat. Dirasakannya cairan kental mengalir dari hidungnya. Diusapnya dg tangannya yg masih bergetar. Dan nafasnya semakin sesak dan tak beraturan saat  melihat darah pada jarinya.
Semua berputar. Semua menakutkan.  Dan sebelum cairan bening itu keluar dari   sudut matanya semua gelap.
***
Ruang tunggu di depan ICU rumah sakit itu seperti dilanda mendung pekat. Setiap yg ada disana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berdoa untuk keselamatan seseorang yang mereka cintai. Berdoa untuk seseorang yang sedang berjuang di dalam sana. Ify.
“Gimana Ify Pa?” raung seorang wanita disana. Mama Ify.
“Ify pasti baik-baik aja Ma. Tenang ya ma….,”  hibur seorang laki2 yg memeluk mama Ify, itu Papa Ify. Walau sebenarnya siapapun tau wajah laki2 itu juga memancarkan kecemasan seperti istrinya.
“Kak Alvin….,” seru Sivia lirih. Sedari tadi dia juga tak hneti2nya menangis dlm pelukan Alvin.
Sementara Rio, Ray, Iel, Agni, dan Cakka duduk terdunduk msh dalam doa mereka masing2.
KLEKK
Suara pintu dibuka. Seorang berjas putih,dokter yang menangani Ify, keluar dari ruang ICU. Segera semua sontak berdiri.
“Bagaimana keadaan Ify dok?” tanya papa Ify cepat.
Dokter itu menghela nafas berat, “Semua orang memiliki batas dan waktunya sendiri.” Dokter itu menghentikan kalimatnya. Dan satu kalimat itu mampu melumpuhkan pikiran dan perasaan semua orang yg ada disana.
“Apa maksud dokter?” Rio angkat bicara.
“Kekuatan tubuh Ify sudah mencapai batasnya. Dia koma. Maafkan kami.”
Itu seperti petir yang menyambar segala yg ada dibawahnya tanpa terkecuali. Semua shock. Dan tangis tak terbendung.
***
5 bulan berjalan selama Ify koma. Dan tak ada perkembangan yg berarti. Semua sudah mulai putus asa. Apalagi saat Ify malah menunjukkan tanda2 bahwa kondisinya semakin menurun.
Hari itu sabtu pagi……….. semua berkumpul di depan ruang ICU. Papa Mama Ify, Ray, Rio, Sivia, Alvin, Agni, Cakka, Iel, dan ada Shilla disana. Hari ini adalah hari penting. Saat sebuah keputusan manusia yg jauh dari kata sempurna yg akan menentukan hidup dan  mati   seseorang. Dokter sudah mulai turun tangan akan kondisi Ify. Dokter hanya menyarankan jika keluarga masih ingin, Ify masih bisa bertahan hidup dg bantuan alat2 yg ada padanya sekarang. Tapi jika tidak semua telah mengetahui……
“Semua tergantung pada keluarga….. kami hanya bisa membantu semaksimal mungkin. Mungkin Bapak dan Ibu ingin membicarakan dg yg lain. Kami akan datang satu jam lagi.” Ucap dokter lirih lalu pergi.
***
Semua diam. Dari pembicaraan barusan sudah ada satu kesimpulan yg menyakitkan.
“NGGAK!!” tiba2 Ray berseru keras.
“RAY NGGAK SETUJU!!”
“Ray kecilkan suara kamu!” ujar Papa tertahan.
Dg amarah Ray memalingkan mukanya. Lalu menatap semua yg ada di sana lagi.
“Ray nggak setuju,” kini volume suaranya mulai mengecil, “kalau papa atau siapapun nyabut alat2 itu dari kak Ify! Kalian mau bunuh kak Ify?” pertanyaan itu membuat papa dan mamanya kaget.
“Ray….,” Rio mencoba bersuara, tapi gagal. Karna pada kenyataannya dia juga tak ingin itu terjadi.
“Ray yakin kak Ify masih punya kesempatan buat sembuh. Ray mohon Pa, Ma… jangan.. Ray nggak rela!” pertahanan itu jebol. Dg air mata yg dia biarkan mengalir Ray memohon pada Papa dan Mamanya.
“Kata Ray ada benarnya Pa,” wanita itu sedikit luluh.
“Om apa nggak bisa dipikirkan lagi?” tanya Shilla di sela2 tangisnya.
“Rio?” laki2 itu memandang Rio, meminta pendapat.
“Saya…. Tidak dapat memutuskan om. Jujur saya tetap ingin Ify bertahan,” kata Rio lirih tapi tetap terdengar tegas, “Tapi saya juga tidak mau egois..,”
“Maksud loe apa?” bentak Ray kasar.
“Kita nggak bisa egois Ray.  Dengan kita tetep mempertahanin Ify dg alat2 itu. Kita nggak pernah tau apa Ify tersiksa atau enggak. Loe nggak maukan Ify menderita? nggak maukan Ify terus nahan sakitnya karna kita tidak pernah bisa melepas dia?”
Semua terdiam…. Perkataan Rio barusan membuat mereka memikirkan semuanya kembali.
“Aku juga nggak bisa Ray, masih sulit untuk ngelepas Ify. Orang yang kita sayang.” mata Rio menatap Ray dalam.
“Aku sayang sama dia.”
“Semua disini sayang sama Ify Ray,” Cakka mencoba meyakinkan.
“Mama juga sulit Ray, tapi mama coba ikhlas. Semua Cuma demi kakak kamu.” Wanita itu turut angkat bicara. Mencoba tegar, walau gambar diwajahnya adalah kesedihan.
“Kita akan sama2 Ray, sama2 untuk kuat dan iklhas untuk melepas Ify. Jika itu yg terbaik…..”
Ray menunduk, sambil sesekali mengusap wajahnya yg basah.
“Ray?” Papa Ray bertanya.
“Ray akan coba,” ucapnya berat.
“Waktu kita Cuma 40 menit.” Ucap papa ray Ify dg nada berat. Berat karna harus melepas putri kesayangannya. 
bersambung........ 
GG

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos Onlinefreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates