Sabtu, 20 Agustus 2011

The Strength Part 1


“Rasanya berat banget,”  gadis itu tersenyum miris.
“Kenapa baru ngomong sekarang?”  tanya seorang gadis dg bandana biru.
“Kamu nggak becanda kan?”  tanya gadis lain lagi yg memakai kemeja putih polos.
Gadis yg ditanyai itu menggeleng.
Sementara gadis lainnya lagi yg rambutnya dikuncir kuda hanya diam memandang salah satu sahabatnya itu yg sedang mjd pokok pembicaraan.
“Maaf…,” ucap gadis yg msh tersenyum miris. Namanya Ley. Aleysa. Dan yg sedang bersamanya kini adalah ke-3 sahabat terbaiknya, Tara,gadis berbandana biru, Rora.Aurora-gadis berkemeja putih, dan Rena,yg sedari tadi diam memperhatikan.
“Buat apa?” tanya Tara pelan. Ley hanya tersenyum tipis.
“Loe munafik!” ucap Rena tiba2, pelan tapi tajam.
Ketiga yg lain kaget dan sontak menoleh kearah Rena yg mereka ketahui plg irit ngomong.
Ley hanya diam menunggu kelanjutan kalimat itu.
“Jangan dipikul sendirian klo terlalu berat. Jgn Cuma disimpan klo hanya akan buat kecewa. Jangan terus berlari klo memang terlalu lelah.” Rena mengucapkan itu sambil memberi jeda di setiap akhir kalimatnya.
“Siapa yg slalu ngomong kayak gitu?” tanyanya datar, seolah tanpa ekspresi.
“Ren….,” panggil Rora pelan mencoba menenangkan sahabatnya itu. Dia tahu sahabatnya ini bukan dlm keadaan tak peduli. Tapi dari nada dan ekspresi wajah itu, sahabatnya ini sedang dlm kondisi yg sangat kecewa.
Seakan tak mempedulikan panggilan Rora, Rena meneruskan perkataannya yg sempat dia hentikan sejenak, “Loe slalu bilang loe tau segalanya tentang sahabat loe! tapi loe!.... nggak pernah membiarkan kita tau sedikitpun tentang loe!” ucapnya tajam.
Rena berhenti. Dan sepertinya tak berniat meneruskan kalimatnya lagi.
“Ley…..,” panggil Rora pelan sambil mengelus satu pundak Ley.
“Nggak papa..,” ucapnya lirih.
“Terkadang, sering bahkan…,” ujar Tara pelan. Sambil menunduk, “Kita terlebih gw, pengin bisa jadi tempat loe bersandar….. bukan hanya sekedar tempat berbagi kebahagian, tapi juga tempat berbagi dlm kesedihan dan masalah,” Tara jeda sejenak, mengatur nafasnya.
“Dimata gw… loe adalah sosok yg sempurna. Slalu terlihat bahagia. Walau gw tau loe pasti juga punya masalah kayak yg lain,” Tara jeda lagi.
“Tapi gw nggak bisa maksa loe buat cerita…. Loe slalu ada saat kita punya masalah. Slalu ada untk berbagi cerita. Dan slalu bersedia untuk mjd tempat bersandar. Menjadi tempt perhentian saat kita lelah setelah lari dr masalah….,” Tara mengatur nafasnya. Kini memberanikan diri untuk menatap wajah sahabatnya yg sedari tadi memandangnya dlm sorot mata ketenangannya.
“Slalu ada saat kita butuh. Tapi… loe nggak pernah jadiin kita kayak gitu,” Tara berpaling pada stage kecil di tengah café.
Gadis yg sedari tadi namanya disebut hanya terus membisu dlm senyum tipisnya.
“Kita masih sahabatkan Ley?” tanya Tara lirih, lebih seprti bisikan tp masih bisa didengar oleh 4 orang sahabat itu.
Lagi-lagi Ley hanya diam, sambil lebih sedikit menarik ujung-ujung bibirnya.
“Kalau loe masih nganggap kita sahabat,” Rena bersuara kembali. Kini nadanya terdengar lebih keras, “Anggep kita seperti kita anggep loe! Kita nggak akan pernah menghindar. Karna sahabat nggak akan pernah mundur walau hanya satu langkah.”
“Trima kasih,” ucap Ley kemudian. Ada pancaran tak percaya dari dua mata beningnya itu.
“Ley…. Kita semua sayang sama kamu. Dan kita juga pengin yg terbaik untuk sahabat kita,” ucap Rora kemudian. Lembut penuh kesabaran.
“Gw akan ke Amsterdam besok,” ucap Ley tiba2. Tegas penuh keyakinan.
Semua menatapnya tak percaya.
“Amsterdam?” ulang Rora tak percaya.
“Gw akan berobat di sana. Besok jam 10 pagi.”
“Tapi….”
“Ra,” potong Ley cepat, “Makasih buat semua perhatian kalian. Gw bangga punya sahabat2 kayak kalian,” Ley berhenti sejenak. Menatap satu2 sahabatnya.
“Gw seneng nglakuin itu semua untuk kalian. Gw nggak munafik. Karna menurut gw, emang nggak ada yg harus dicritain ke kalian. Dan untuk penyakit gw itu…..,” Ley menarik nafasnya.
“Gw pasti akan cerita. Dan ternyata waktunya adalah sekrg,” lanjutnya pelan.
Semua diam….. masih terlalu sulit untuk mencerna semua perkataan itu.
“Berapa lama?” tanya Rora pelan.
“Entahlah…. Tapi klo memang bisa…., gw pasti akan balik lagi ke Indonesia,” jawabnya tenang disertai sebuah senyum kecil miliknya.
Tak ada yg menanggapi. Semua diam. Sudah terlalu berat dan melelahkan pembicaraan ini barusan.
Bukan seperti ini sebenarnya yg mereka inginkan. Bukan kalimat itu yg mereka harapkan. Tapi Ley tetaplah Ley. Seorang gadis mandiri yg selalu terlihat tegar dan kuat. Selalu terlihat baik2 saja, selalu terlihat sempurna.
Bahkan saat semua hal, saat semua ucapan sudah menghujam pertahanan terdalam miliknya. Saat semua hal seakan sudah meluluh lantakan topeng kebahagian abadi miliknya. Tapi ternyata topeng dan dinding itu terlalu tebal untuk ditembus dan terlalu kuat untuk dihancurkan. Bahkan ketenangan itu masih ada disana.
˜˜Ë™™
Mobil Yaris putih gading itu melaju sedang di sepanjang jalan raya  yg malam ini cukup lengang. Di bawah langit berbintang Ley melajukan mobilnya dalam diam. Ini malam terakhirnya di Jakarta. Sekilas dipandanginya sepanjang jalan yg dilaluinya. Masih sama.
Detik berikutnya di liriknya sekilas isi mobilnya. Mobil ini, pemberian Papanya saat ulang tahunnya yg ke 14. Tapi baru dipakainya saat masuk SMA, 2 tahun yg lalu.
Sudah banyak hal yg terjadi disini. Ley tersenyum geli mengingatnya. Dia masih ingat betul bagaimana pertama kali dia menjalankan mobil ini. bagaimana ekspresi ke-3 sahbatnya itu saat ikut naik ketika dirinya membawa mobil ini ke sekolah untuk pertama kalinya.
Saat-saat bersama di dalam mobil ini. Tawa, tangis, semua pernah terjadi di sini. Dan ini saat2 terakhirnya mengemudikan mobil ini. mobil kesayangannya.
Tiba2 semua bayangan itu menohok hatinya. Ada rasa sesak saat dia sadar bahwa dia tidak akan lagi disni. Tidak akan ditemuinya lagi ke-3 sahabatnya itu. Dipaksakannya sebuah senyum khas miliknya. Tapi gagal.
Mobil itu dihentikan di tepi jalan. Ley tidak keluar dia hanya diam di kursi pengemudi sambil menatap nanar jalan di depannya.
Semua yg telah terjadi. Ketegaran dan kebahagian yg selalu dapat dg sempurna di ciptakannya terkadang  membuatnya lelah. Kenangan2 dg sahabat2 terbaiknya. Dan yg terakhir apa yg menimpanya terakhir ini. sebuah alasan kenapa dirinya menyetujui untuk pergi ke negara bunga tulip itu.
Bukan sebuah alasan sebenarnya tapi untuk 2 alasan. Berobat dan yg paling penting adalah jika nanti ternyata dirinya tak sekuat apa yg dipikirkannya selama ini, dia tidak harus terpuruk dan hancur di depan orang2 tersayangnya. Cukup ke dua orang tuanya. Selain itu tak pernah dia biarkan siapapun melihat saat2 dirinya harus jatuh.
Dan ternyata ‘dinding’ itu sudah mulai terkikis sekarang. Karena saat penat itu benar2 pecah, dia akan mengalah. Membiarkan topeng itu hilang kemanapun dia mau. Membiarkan dinding kokoh itu hancur luluh lantang tak bersisa. Tapi bukan disini. Ada tempatnya sendiri.
Ley membuang nafasnya berat, sekali lagi. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dan mobil itu kembali melaju sedang, sekedar untuk menikmati malam terakhirnya di sini. 
bersambung......
GG

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos Onlinefreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates